SAMARINDA: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda memastikan daya tampung sekolah menengah pertama (SMP) negeri di kota tersebut sebenarnya cukup untuk menampung lulusan sekolah dasar (SD) yang akan melanjutkan pendidikan pada tahun ajaran 2026.
Kepala Disdikbud Kota Samarinda, Asli Nuryadin, mengatakan persepsi kekurangan kursi sekolah biasanya muncul karena sebagian besar masyarakat hanya memilih sekolah tertentu yang dianggap sebagai sekolah favorit.
“Kalau kita bandingkan jumlah lulusan kelas 6 dengan daya tampung kelas 7 SMP, sebenarnya cukup bahkan bisa dibilang berlebih,” ujar Asli saat diwawancarai wartawan usai Rapat Finalisasi Juknis SPMB di Ruang Rapat Disdikbud Samarinda, Kamis, 12 Maret 2026.
Menurutnya, persoalan yang sering terjadi bukan pada ketersediaan kursi, melainkan pada penumpukan pendaftar di beberapa sekolah yang dianggap unggulan.
Ia mencontohkan kondisi di salah satu SMP yang selalu menjadi tujuan utama calon siswa, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah daya tampung sekolah di Samarinda tidak mencukupi.
“Misalnya di SMP 4, itu peminatnya banyak sekali sehingga orang berebut masuk ke sana. Padahal daya tampungnya terbatas. Sementara sekolah lain masih memiliki ruang yang cukup,” katanya.
Asli menyebut sejumlah sekolah seperti SMP 7 atau SMP 40 masih memiliki daya tampung yang memadai, namun sering kali tidak menjadi pilihan utama masyarakat.
“Jadi sebenarnya akses pendidikan kita cukup. Hanya saja masyarakat cenderung menumpuk di sekolah tertentu,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Disdikbud Samarinda menerapkan sistem domisili atau rayonisasi yang memprioritaskan calon siswa berdasarkan alamat tempat tinggal.
Menurut Asli, sistem ini dirancang agar siswa dapat bersekolah di lokasi yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
Sebagai contoh, siswa yang tinggal di wilayah Korpri Loa Bakung sebaiknya memilih sekolah yang berada di wilayah terdekat seperti SMP 38, dibandingkan memilih sekolah yang jaraknya lebih jauh.
“Kalau rumahnya di sana, sebaiknya memilih sekolah yang terdekat. Kalau tidak tertampung di pilihan pertama, nanti sistem akan menggeser ke pilihan kedua atau ketiga yang masih berada di sekitar domisili,” ujarnya.
Selain jalur domisili, sistem SPMB juga menyediakan jalur prestasi bagi siswa yang ingin memilih sekolah di luar wilayah tempat tinggalnya.
Jalur prestasi tersebut mencakup prestasi akademik maupun nonakademik, seperti prestasi di bidang olahraga atau kegiatan lainnya.
“Kalau prestasi akademik tentu dilihat dari nilai. Sedangkan nonakademik bisa dari olahraga atau bidang lain yang memang memiliki prestasi,” jelasnya.
Asli menegaskan bahwa pada prinsipnya seluruh sekolah negeri di Samarinda memiliki standar pendidikan yang sama.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak hanya berfokus pada sekolah tertentu.
Menurutnya, persepsi masyarakat tentang sekolah favorit sering kali dipengaruhi oleh faktor bangunan atau reputasi yang berkembang di masyarakat.
“Kadang masyarakat melihat bangunan sekolah yang besar lalu menganggap itu lebih bagus. Padahal standar pendidikan di semua sekolah sama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa banyak sekolah di wilayah pinggiran yang justru memiliki fasilitas baru dan kualitas pembelajaran yang tidak kalah baik.
Sebagai contoh, beberapa sekolah di wilayah seperti Lempake, Loa Bakung, atau Loa Hui saat ini telah memiliki bangunan dan fasilitas yang lebih modern.
“Sekolah di pinggiran juga bagus sekarang. Bangunannya baru dan fasilitasnya lengkap,” ujarnya.
Menurut Asli, tidak ada jaminan bahwa sekolah yang dianggap unggulan selalu menghasilkan lulusan terbaik.
“Tidak ada jaminan sekolah yang dianggap hebat pasti menghasilkan anak hebat. Begitu juga sekolah yang disebut di pinggiran bukan berarti menghasilkan anak yang tidak bermutu,” tegasnya.
Karena itu, Disdikbud Samarinda berharap masyarakat dapat memahami sistem penerimaan siswa baru yang telah dirancang untuk memberikan akses pendidikan yang merata.
Ia juga meminta dukungan dari media untuk membantu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai sistem SPMB dan pentingnya memilih sekolah sesuai domisili.
“Prinsipnya semua sekolah itu baik. Tidak ada sekolah yang ingin muridnya tidak berhasil. Jadi masyarakat juga perlu memahami itu,” katanya.
Dengan sistem penerimaan yang mencakup jalur domisili, prestasi, afirmasi, hingga perpindahan tugas orang tua, Disdikbud Samarinda menilai seluruh kelompok masyarakat sebenarnya telah terakomodasi dalam mekanisme penerimaan siswa baru.
“Menurut saya sistem ini sudah cukup baik karena semua kelompok sudah terakomodasi,” pungkasnya.

