Laporan Wartawan Narasi.co, Adi Rizki
Tiga belas jam di atas aspal, membelah Pulau Jawa dari barat ke timur, membuat saya menyadari satu hal sederhana: jalan juga bercerita. Bukan sekadar tentang jarak yang ditempuh, tetapi tentang bagaimana sebuah wilayah dibangun, diatur, dan diprioritaskan.
Perjalanan saya dari Jakarta menuju Surabaya ditempuh melalui jalur Tol Trans-Jawa.
Ini bukan sekadar perpindahan kota, melainkan seperti mengikuti kelas terbuka tentang bagaimana infrastruktur, terutama jalan penghubung, dibangun, dirawat, dan dimanfaatkan.
Saya berangkat dari Jakarta Timur sekitar pukul 06.00 WIB. Langit masih keabu-abuan dan lalu lintas ibu kota belum sepenuhnya menggila. Memasuki ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek, ritme perjalanan langsung terasa berbeda: lajur lebar, marka jelas, dan arus kendaraan relatif teratur meski padat.
Dari sana, perjalanan berlanjut ke Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), ruas panjang yang membelah hamparan sawah, kawasan industri, dan perbukitan Jawa Barat. Permukaan jalan yang mulus membuat jarak terasa ringan. Setelah itu, roda terus bergulir melewati Palimanan-Kanci (Palikanci), Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, hingga Pemalang-Batang.
Setiap beberapa puluh kilometer, rest area hadir seperti oase. Ada yang sederhana, ada pula yang megah. SPBU, toilet bersih, musala hingga masjid luas, food court, gerai kopi, sampai lapak UMKM lokal tersedia.
Beberapa bahkan telah dilengkapi stasiun pengisian kendaraan listrik. PT Jasamarga Transjawa Tol menyiagakan sekitar 70 titik rest area tipe A, B, dan C di sepanjang 1.167 kilometer ruas Trans-Jawa. Istirahat bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi bagian dari pengalaman perjalanan.
Memasuki Jawa Tengah, saya melintasi Batang-Semarang, menyusuri Semarang ABC, lalu lanjut ke Semarang-Solo. Lanskap berganti dari pesisir ke perbukitan. Truk logistik berdampingan dengan mobil pribadi dan bus antarkota, sebuah potret denyut ekonomi Jawa yang tak pernah benar-benar tidur.
Perjalanan berlanjut ke Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, hingga akhirnya tiba di Surabaya melalui Gerbang Tol Waru Gunung. Total jarak sekitar 784 kilometer, ditempuh hingga pukul 19.30 WIB, lebih dari 13 jam, termasuk rehat untuk makan dan salat.
Biaya tol untuk kendaraan Golongan I (sedan, mobil, minibus) berkisar Rp854.000 hingga Rp883.500 sekali jalan. Tidak murah, tetapi terasa sebanding dengan kualitas dan kelancaran yang ditawarkan.
Kota-kota yang terlewati, Bekasi, Karawang, Bandung, Cirebon, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Semarang, Solo, Ngawi, Nganjuk, Mojokerto, hingga Sidoarjo, terasa seperti rangkaian simpul ekonomi yang terhubung rapi oleh pita aspal panjang ini.
Di tengah perjalanan, pikiran saya melayang pada Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) di Kalimantan Timur. Ruas sepanjang sekitar 99 kilometer itu biasa saya tempuh dalam 1,5-2 jam, dengan lanskap hutan, perbukitan, dan deretan pohon sawit.
Kualitas jalannya belum sehalus Trans-Jawa. Rest area masih terbatas. Arus kendaraan jauh lebih lengang. Dan yang paling terasa adalah kontur jalan yang masih bergelombang, sesuatu yang idealnya tidak ada pada jalan tol.
Trans-Jawa terasa lebih “matang” bukan semata karena teknologi, melainkan karena skala kebutuhan. Jawa adalah tulang punggung ekonomi nasional: kepadatan penduduk tinggi, aktivitas logistik masif, dan lalu lintas harian luar biasa.
Volume kendaraan besar membuat investasi infrastruktur lebih cepat kembali, fasilitas pendukung lebih berkembang, dan standar layanan terus ditingkatkan.
Trans-Jawa diresmikan secara penuh pada Desember 2018, meski pembangunannya telah dimulai sejak era Presiden Soeharto pada 1978 dan sempat terhenti akibat krisis 1997.
Dengan total investasi sekitar Rp582 triliun, tol ini kini menjadi tulang punggung konektivitas Pulau Jawa.
Sementara itu, Tol Balsam dibangun di wilayah dengan kepadatan lebih rendah, bentang alam menantang, dan pola mobilitas yang masih berkembang. Infrastruktur di Kalimantan Timur bukan tertinggal, ia sedang bertumbuh, mengikuti dinamika wilayah yang kini juga bersiap menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Perjalanan ini membuat saya berpikir: Trans-Jawa adalah hasil akumulasi kebijakan, kebutuhan ekonomi, dan mobilitas manusia selama puluhan tahun. Ia tidak lahir tiba-tiba.
Perbedaan mencolok antara kedua tol itu mencerminkan kesenjangan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Jawa menikmati konektivitas tinggi dan fasilitas lengkap, sementara Kalimantan masih dalam fase penguatan fondasi.
Namun, kehadiran Tol Balsam adalah langkah awal yang penting. Ia membuka isolasi, memangkas waktu tempuh, dan menjadi simbol konektivitas baru di wilayah timur Indonesia.
Seperti yang pernah disampaikan Presiden Joko Widodo saat peresmian Tol Balsam, kehadiran jalan tol diharapkan menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru serta memperbaiki jaringan logistik agar lebih efisien dan cepat.
Pada akhirnya, jalan memang bercerita. Tentang masa lalu pembangunan, tentang kebutuhan hari ini, dan tentang arah masa depan yang sedang dituju sebuah bangsa.

