SAMARINDA: Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis bagi Andi Abdul Rasyad (65), warga Samarinda Seberang.
Setelah 14 tahun menunggu sejak mendaftar pada 2012, ia kini bersiap menunaikan rukun Islam kelima.

Ia menjadi salah satu dari 1.024 calon jemaah haji Kota Samarinda yang dijadwalkan berangkat pada 18 Mei 2026, tergabung dalam kloter 16.
Wajahnya tampak tenang, namun sulit menyembunyikan rasa haru.
“Alhamdulillah, bahagia,” ucapnya singkat, menggambarkan perasaan yang telah lama dipendam, saat diwawancarai usai pelepasan calon jemaah haji oleh Pemkot Samarinda, di GOR Segiri, Minggu, 5 April 2026.
Perjalanan haji bagi Rasyad bukan sekadar ibadah biasa.
Ia akan berangkat seorang diri. Sang istri telah lebih dulu menunaikan haji pada 2024. Kini, giliran dirinya menyusul, melengkapi perjalanan spiritual keluarga mereka.
Menunggu lebih dari satu dekade bukanlah waktu yang singkat.
Namun, bagi Rasyad, masa itu justru menjadi ruang untuk mempersiapkan diri, terutama dari sisi kesehatan dan fisik.
“Persiapan ya kesehatan, fisik. Insya Allah siap,” katanya.
Di tengah penantiannya, ia juga menyaksikan perubahan dalam pelayanan haji, khususnya di Kota Samarinda.
Menurutnya, fasilitas yang diberikan saat ini jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Bagus. Termasuk petugas-petugasnya, lebih bagus dari sebelumnya,” ujarnya.
Tahun ini, jumlah jemaah haji Samarinda tergolong besar, mencapai lebih dari seribu orang.
Bagi Rasyad, hal itu menjadi semangat tersendiri berangkat bersama ribuan jemaah lain dengan harapan yang sama.
Harapannya sederhana, namun penuh makna yakni berangkat dalam keadaan sehat, menjalankan ibadah dengan lancar, dan kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur.
“Semua berangkat sehat, pulang juga sehat, jadi haji mabrur,” tuturnya.
Ia juga menanggapi rencana bantuan uang saku dari pemerintah daerah sebesar 100 riyal bagi jemaah.
Baginya, bantuan tersebut patut disyukuri jika terealisasi, namun bukan menjadi penentu utama niat berhaji.
“Kalau ada, alhamdulillah. Tidak ada juga tidak apa-apa, tetap berangkat,” katanya bijak.
Kini, setelah 14 tahun menunggu, langkah Rasyad semakin dekat ke Tanah Suci.
Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang jarak, tetapi juga tentang kesabaran, kesiapan, dan keyakinan.

