BONTANG: Di tengah perkampungan nelayan di Bontang Kuala, berdiri sebuah bangunan kayu yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Islam di pesisir Kalimantan Timur.
Masjid Tua Al Wahhab bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga penanda awal berkembangnya dakwah Islam di Kota Bontang sejak abad ke-18.

Masjid ini tercatat berdiri pada tahun 1789 Masehi. Dengan usia sekitar 235 tahun, bangunan tersebut menjadi salah satu situs keagamaan tertua di kawasan pesisir Kalimantan Timur. Keberadaannya menunjukkan bahwa wilayah pesisir Bontang sejak lama telah menjadi ruang perjumpaan budaya maritim yang membawa pengaruh Islam ke kawasan ini.
Sejarah berdirinya masjid tidak bisa dilepaskan dari sosok ulama yang berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut, yakni Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi.
Pada masa itu, masjid ini berfungsi sebagai pusat dakwah sekaligus tempat pembinaan masyarakat pesisir yang sebagian besar menggantungkan hidup dari aktivitas laut.
Hingga kini, makam Habib Ja’far berada di sekitar area masjid dan menjadi bagian dari kompleks sejarah yang kerap diziarahi masyarakat. Bagi warga setempat, keberadaan makam tersebut tidak hanya menjadi pengingat perjalanan dakwah Islam di Bontang, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap ulama yang membangun fondasi kehidupan keagamaan masyarakat pesisir.
Akulturasi Budaya dalam Arsitektur Masjid
Selain nilai sejarahnya, Masjid Tua Al Wahhab juga dikenal karena arsitekturnya yang merepresentasikan akulturasi budaya Nusantara. Bangunan utama masjid menggunakan kayu ulin asli, material khas Kalimantan yang terkenal memiliki ketahanan tinggi terhadap perubahan cuaca tropis serta serangan organisme perusak kayu.
Kayu ulin sejak lama menjadi pilihan utama masyarakat lokal dalam membangun rumah dan fasilitas umum tradisional karena daya tahannya yang mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Secara arsitektural, desain masjid memperlihatkan perpaduan berbagai pengaruh budaya, mulai dari gaya Bugis, Kalimantan, hingga unsur arsitektur masjid tradisional dari Demak dan Sumatra. Perpaduan tersebut mencerminkan karakter kawasan pesisir yang sejak lama menjadi jalur perdagangan dan pelayaran antarpulau.
Bangunan utama masjid memiliki ukuran sekitar 11 x 11 meter. Meski tidak terlalu besar dibandingkan masjid modern, bentuknya yang sederhana justru mencerminkan pendekatan dakwah Islam di Nusantara yang menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat.
Upaya Menjaga Keaslian Bangunan
Pengelola masjid hingga kini berupaya mempertahankan keaslian struktur bangunan yang telah berusia lebih dari dua abad tersebut. Renovasi dilakukan secara terbatas agar tidak mengubah bentuk dasar bangunan.
Bendahara masjid, Rakim, menjelaskan bahwa prinsip utama pengelolaan adalah menjaga keaslian struktur kayu ulin yang menjadi ciri khas bangunan.
“Bagian dalam masjid ini masih asli. Struktur kayu ulin, jendela, dan rangka utama bangunan tetap dipertahankan seperti dulu,” ujarnya saat ditemui Narasi.co, Sabtu, 14 Maret 2026.
Ia menambahkan perawatan bangunan lebih difokuskan pada perlindungan bagian luar agar kayu tetap awet menghadapi kondisi cuaca pesisir.
“Renovasi hanya dilakukan di bagian luar untuk melindungi kayu dari hujan dan kelembapan. Kami berusaha menjaga agar bentuk aslinya tidak berubah,” jelasnya.
Pendekatan konservasi tersebut bertujuan memastikan nilai historis masjid tetap terjaga meskipun bangunan masih digunakan secara aktif oleh masyarakat.
Tradisi Ramadan yang Tetap Terjaga
Masjid Tua Al Wahhab tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Bontang Kuala, terutama saat bulan Ramadan.
Setiap malam Ramadan, jumlah jamaah biasanya meningkat signifikan. Salat tarawih bahkan kerap meluber hingga ke halaman masjid karena tingginya partisipasi warga.
“Kegiatan Ramadan di sini selalu ramai. Tarawih sering sampai ke luar masjid karena jemaahnya banyak,” kata Rakim.
Selain salat tarawih, masyarakat juga rutin menggelar tadarus Al-Qur’an setelah salat malam, serta melaksanakan iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Tradisi kebersamaan juga terlihat dalam kegiatan buka puasa bersama. Makanan yang disajikan biasanya berasal dari sumbangan warga yang secara bergiliran menyiapkan hidangan bagi jemaah.
“Kalau buka puasa bersama biasanya dari warga. Mereka bergiliran membawa makanan untuk jemaah,” ujarnya.
Menjaga Warisan Sejarah
Bagi masyarakat Bontang Kuala, Masjid Tua Al Wahhab bukan sekadar bangunan ibadah. Masjid ini merupakan simbol identitas kampung pesisir yang memiliki tradisi maritim kuat sekaligus bukti perjalanan sejarah Islam di wilayah tersebut.
Keberadaannya mengingatkan bahwa perkembangan kota modern tidak boleh memutus hubungan dengan akar sejarah dan budaya lokal.
“Masjid ini bukan hanya tempat salat, tapi juga bagian dari sejarah Bontang Kuala. Kami berharap generasi muda ikut menjaga dan merawatnya,” kata Rakim.
Dengan usia yang telah melampaui dua abad, Masjid Tua Al Wahhab kini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga warisan sejarah yang merekam perjalanan dakwah Islam, budaya maritim, serta kehidupan masyarakat pesisir Kalimantan Timur dari masa ke masa.

