BALIKPAPAN: Sebanyak 77 sekolah di Kalimantan Timur akan mulai menerapkan kurikulum bilingual pada tahun ajaran 2026.
Program ini digagas Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) sebagai langkah strategis untuk menyiapkan generasi muda yang berdaya saing global dan adaptif terhadap perkembangan pendidikan internasional.
“Ketujuh puluh tujuh sekolah yang terlibat dapat segera mengimplementasikan program Bilingual School pada tahun ajaran baru, yaitu Tahun Intake 2026,” ujar Plt Kadisdikbud Kaltim Armin.
Peluncuran program tersebut ditandai dengan penyelenggaraan workshop sekolah bilingual yang berlangsung di Balikpapan pada Rabu, 5 November lalu.
Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Samarinda (19 sekolah), Balikpapan (7), Kutai Kartanegara (11), Berau (16), Penajam Paser Utara (9), Kutai Timur (5), Paser (4), Kutai Barat (4), dan Bontang (2 sekolah).
“Kami menargetkan agar sekolah-sekolah ini bisa menjadi percontohan penerapan bilingual di Kaltim. Selanjutnya program ini akan diperluas secara bertahap ke daerah lain,” jelas Armin.
Sekolah bilingual adalah institusi pendidikan yang menggunakan dua bahasa sebagai bahasa pengantar utama untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran. Tujuan utamanya adalah agar siswa dapat menguasai kedua bahasa tersebut, baik bahasa ibu maupun bahasa asing seperti Inggris, dan mampu berpikir serta berkomunikasi secara fasih dalam kedua bahasa tersebut.
Dalam penerapannya, Disdikbud Kaltim bekerja sama dengan Universitas Mulawarman dan Adelaide University untuk memastikan kualitas pengajaran.
Kerja sama ini menekankan penerapan metode Content and Language Integrated Learning (CLIL) dan English as a Medium of Instruction (EMI), yang memungkinkan siswa belajar mata pelajaran seperti sains, sejarah, atau matematika sambil memperdalam kemampuan bahasa Inggris. Metode ini terbukti meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Melalui program ini, Disdikbud Kaltim menargetkan terciptanya lulusan yang siap melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Pemprov Kaltim juga berkomitmen memperluas jangkauan program agar lebih banyak sekolah mengimplementasikan kurikulum internasional di masa depan.
Program sekolah bilingual menjadi bagian dari transformasi pendidikan Kaltim menuju sistem yang inklusif dan berorientasi global. Pemprov memastikan dukungan penuh, mulai dari pelatihan guru, penguatan kurikulum, hingga penyediaan fasilitas digital di sekolah.
Dengan peluncuran program ini, Kaltim menegaskan diri sebagai salah satu provinsi pionir di Indonesia Timur dalam membangun pendidikan berbasis global yang berpihak pada mutu dan pemerataan akses.

