SAMARINDA: Azan Subuh berkumandang di hari pertama Ramadan 2026/1447 Hijriah.
Di sebuah kamar kos sederhana di Samarinda, Adryan Risady terbangun oleh alarm ponselnya. Tak ada suara ibu yang membangunkan sahur, tak ada aroma masakan dari dapur rumah. Semua ia lakukan sendiri.
Bagi sebagian mahasiswa perantau, momen ini terasa berat. Namun bagi Adryan, Ramadan jauh dari keluarga bukan lagi pengalaman pertama.
Saat dihubungi Narasi.co, Kamis, 19 Februari 2026, pria 26 tahun asal Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat itu bercerita tentang perjalanan sembilan tahunnya merantau ke Kalimantan Timur demi menuntut ilmu.
“Saya sudah beberapa kali puasa jauh dari keluarga. Kalau yang baru pertama kali mungkin agak sedih. Tapi sekarang sudah mulai bisa menstabilkan situasi,” ujarnya pelan.
Adryan datang ke Samarinda pada 2017 untuk kuliah S1 Ekonomi Syariah. Ia menyelesaikan studinya, lalu melanjutkan S2 di jurusan yang sama. Artinya, hampir satu dekade ia melewati Ramadan sebagai anak rantau.
Namun ia tak menampik, pada awal-awal merantau, suasana terasa berbeda.
“Kalau di rumah kan ada yang bangunin sahur, ada yang masakin. Kita tinggal bangun dan makan. Sekarang harus bangun sendiri. Pasang alarm, kadang minta teman saling bangunin,” katanya sambil tertawa kecil.
Ia bahkan punya kebiasaan khusus sekaligus tips agar tak kelewatan sahur.
“Sebelum tidur saya baca Surah Al-Mulk, lalu niatkan mau bangun sahur. Alhamdulillah biasanya bangun,” tuturnya.
Di balik kemandirian itu, ada rindu yang tak pernah benar-benar hilang.
Yang paling ia rindukan adalah suasana Ramadan di kampung. Berangkat tarawih bersama orang tua, berbuka puasa di meja makan sederhana, hingga kehangatan satu kampung yang terasa seperti keluarga sendiri.
“Kalau di kampung itu satu kampung kayak keluarga semua. Kebersamaannya terasa. Kalau di kota, meskipun banyak teman, habis itu ya balik ke tempat masing-masing. Sendiri-sendiri lagi,” ungkapnya.
Meski jarak memisahkan ribuan kilometer, Adryan berusaha menjaga kedekatan dengan orang tua. Ia hampir setiap hari menelepon untuk menanyakan kabar.
“Setiap hari rasanya menghubungi orang tua. Tanyakan kondisi di kampung, kabar mereka bagaimana. Biar tetap terjalin silaturahmi. Jarak bukan penghalang karena sudah ada alat komunikasi,” ujarnya.
Untuk rencana Lebaran tahun ini, ia masih mempertimbangkan apakah akan pulang atau tidak. Padatnya arus mudik menjadi pertimbangan. Namun satu hal yang pasti, jika orang tuanya meminta, ia tak akan ragu untuk pulang.
“Kalau orang tua maksa pulang, mungkin saya pulang,” katanya singkat.
Selama sembilan tahun merantau, satu hal yang selalu menjadi pegangan Adryan adalah doa dan restu orang tua. Ia meyakini, perjalanan panjangnya menuntut ilmu tak lepas dari dukungan mereka.
“Saya ke Kalimantan ini untuk kuliah dan orang tua mendukung. Saya yakin kalau orang tua merestui langkah kita di kampung orang, meskipun sulit, Insya Allah bisa dilalui. Selalu ada saja yang membantu,” ucapnya penuh keyakinan.

