
SAMARINDA : Provinsi Kalimantan Timur menjadi salah satu miniatur Indonesia, yang memiliki masyarakat terdiri atas banyak suku, agama, ras dan antar golongan. Perbedaan itu harus dirawat dengan sikap saling menghargai, tidak memiliki sikap primordial guna mencegah munculnya konflik hubungan di masyarakat.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan yang disampaikan Anggota DPRD Provinsi Kaltim Nidya Listiyono, saat menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan (wasbang) di wilayah I Kota Samarinda, Minggu (12/2/2023).
“Sosialisasi wasbang merupakan salah satu upaya meningkatkan rasa nasionalisme di seluruh lapisan masyarakat, mencegah paham-paham yang ekstrem termasuk untuk mengurangi sifat primordial,” tuturnya.
Untuk itu lanjut Nidya, pengetahuan akan wawasan kebangsaan (wasbang) dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan warga negara yang majemuk, penting untuk terus disosialisasikan agar menumbuhkan sikap toleransi dan mengurangi sikap primordial.
“Sosialisasi ini merupakan salah satu upaya meningkatkan rasa nasionalisme di seluruh lapisan masyarakat, mencegah paham-paham yang ekstrem termasuk untuk mengurangi sifat primordial,” tuturnya.
Ketua Komisi II DPRD Kaltim itu menerangkan, sifat primordial atau memiliki perasaan kesukuan yang berlebihan karena menganggap bahwa segala yang berasal dari budaya, suku, bangsa dan agamanya paling benar di bandingkan yang lain.
Dipandang penting untuk dijauhkan dari sifat masyarakat, sebab dijelaskan Nidya sapaan akrabnya segala sesuatu yang berlebihan bukan sesuatu yang baik untuk di lestarikan. Pasalnya sikap primordial tentunya akan menimbulkan tensi hubungan kesukuan yang tinggi di Kaltim, memicu diskriminasi, konflik serta menghambat hubungan antar masyarakat.
“Semua pihak memiliki peran untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada masyarakat, menciptakan kerukunan serta membuang jauh-jauh sikap primordial,” tegasnya.

