SAMARINDA : Di tengah ancaman perubahan iklim yang terus meningkat, ketahanan pangan menjadi isu yang semakin mendesak untuk ditangani.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah dan Kota Semarang memperkenalkan solusi berkelanjutan melalui pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA).
LEISA adalah metode pertanian yang menitikberatkan pada penggunaan input rendah dan minim bahan kimia sintetis.
Pendekatan ini dirancang untuk memastikan kelestarian lingkungan dan ekosistem tanpa mengorbankan hasil pertanian.
“LEISA merupakan solusi untuk mengintegrasikan pertanian berkelanjutan dengan pendekatan lokal yang inovatif. Metode ini memastikan bahwa ketahanan pangan dapat dicapai tanpa merusak lingkungan,” ujar Nugroho Adi Sasongko.
Demikian Nugroho, Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN, Jumat (3/1/2025), dilansir dari media sosial BRIN.
Hasil nyata dari penerapan LEISA mencakup penggunaan sumber daya lokal yang efisien, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pengurangan polusi akibat bahan kimia sintetis.
Teknologi ramah lingkungan dari BRIN memungkinkan petani di daerah sulit untuk tetap berkontribusi dalam ketahanan pangan. Ini adalah langkah besar dalam mengatasi tantangan perubahan iklim
Pendekatan LEISA tidak hanya berdampak pada hasil panen, tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien, metode ini membantu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
“Hal ini sejalan dengan upaya mendukung 17 pilar Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam hal pelestarian sumber daya alam, pengurangan limbah, dan peningkatan ketahanan ekonomi di kawasan rentan seperti pesisir,” tutup Nugroho.(*)

