Penggunaan vape atau rokok elektrik di kalangan remaja dan mahasiswa terus meningkat dalam dua tahun terakhir.
Meski sering dianggap lebih “aman” dibanding rokok konvensional, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa vape memiliki risiko kesehatan yang tidak kalah berbahaya bahkan dalam beberapa kasus, lebih serius.
Fenomena ini kini menjadi perhatian banyak pihak, terutama karena pengguna vape terbesar berada di kelompok usia sekolah menengah hingga mahasiswa.
Kemudahan mendapatkan perangkat, varian rasa yang menggoda, serta pemasaran agresif di media sosial membuat vape semakin populer di usia yang seharusnya belum merokok sama sekali.
Vape Bukan Alternatif Aman
Banyak pengguna percaya bahwa vape hanya menghasilkan “uap air”, namun faktanya cairan vape mengandung nikotin dalam kadar tinggi, propylene glycol, glycerin, dan zat kimia perasa yang dapat berubah menjadi senyawa berbahaya saat dipanaskan.
Sejumlah pakar kesehatan menyebut vape justru membuat anak muda lebih cepat kecanduan karena nikotin cair terserap lebih cepat melalui paru-paru.
Beberapa penelitian internasional juga menemukan kaitan vape dengan kasus paru-paru basah, kerusakan saluran napas, gangguan jantung, hingga EVALI (e-cigarette or vaping-associated lung injury), sebuah kondisi pernapasan akut yang pernah memicu ribuan korban di Amerika Serikat.
Pelajar dan Mahasiswa Jadi Kelompok Paling Rentan
Tren ini paling kuat terjadi di tingkat SMA dan perguruan tinggi. Banyak siswa mencoba vape karena ingin terlihat “kekinian”, hanya ikut teman, atau menganggap vape lebih aman dibanding rokok.
Di berbagai kota besar, ditemukan pula fenomena meningkatnya penggunaan vape di area sekolah dan kos-kosan mahasiswa.
Aroma manis yang tidak mencurigakan membuat perilaku merokok lebih sulit terdeteksi guru maupun orang tua.
Bahaya Jangka Pendek dan Panjang
Penggunaan vape dalam waktu singkat dapat menimbulkan dampak seperti, batuk kering, sesak napas, iritasi tenggorokan, pusing, mual, detak jantung meningkat
Sementara itu, dampak jangka panjangnya meliputi, gangguan paru kronis, risiko kanker, penurunan fungsi jantung, gangguan otak akibat paparan nikotin pada usia remaja, tingkat kecanduan lebih tinggi dibanding rokok biasa.
Nikotin pada remaja juga dapat memengaruhi perkembangan otak, mengganggu konsentrasi, kemampuan belajar, dan pengendalian emosi.
Perlu Pengawasan dan Edukasi Sejak Dini
Pakar kesehatan menekankan bahwa solusi bukan hanya melarang, tetapi memastikan edukasi diberikan sejak dini.
Orang tua, guru, dan kampus perlu aktif mengawasi sekaligus memahami bagaimana vape bekerja dan mengapa begitu banyak remaja terjebak dalam penggunaannya.
Kementerian Kesehatan juga telah memberikan peringatan bahwa penggunaan vape berpotensi membuka jalan menuju kecanduan nikotin permanen, yang pada akhirnya dapat berujung pada konsumsi rokok konvensional.
Tren yang Harus Diwaspadai
Popularitas vape yang terus melonjak, ditambah pemasaran rokok elektrik yang menyasar anak muda, menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan kesehatan.
Kecanduan vape bukan sekadar gaya hidup atau tren sementara.
Tanpa pengawasan dan edukasi yang tepat, generasi muda berisiko menghadapi masalah kesehatan jangka panjang yang mungkin tidak mereka sadari sejak awal.

