Di Indonesia, diabetes tipe 2 selama ini identik dengan penyakit orang dewasa, usia 40 tahun ke atas.
Namun tren terbaru menunjukkan kenyataan berbeda dan jauh lebih mengkhawatirkan: anak muda usia 20-30 tahun kini mulai masuk kelompok risiko tinggi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan beberapa lembaga kesehatan global mencatat kenaikan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia produktif, terutama akibat pola makan manis, kurang aktivitas, serta kebiasaan nongkrong yang menjadi budaya baru generasi muda.
Fenomena ini menandai perubahan besar dalam peta kesehatan nasional dan membuka pertanyaan penting: apakah generasi Z sedang menghadapi krisis kesehatan yang tidak disadari?
Tren Mengkhawatirkan: Diabetes Datang Lebih Cepat
Data terbaru International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2024 menempatkan Indonesia di posisi 5 besar negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia.
Yang lebih mengagetkan, penambahan kasus terbesar terjadi pada kelompok usia muda.
Beberapa temuan penting dalam 10 tahun terakhir, kasus diabetes tipe 2 pada usia di bawah 40 tahun naik hingga 40 persen dengan usia rata-rata diagnosis turun dari 45 tahun menjadi 33–35 tahun.
Survei Kemenkes menunjukkan 1 dari 4 pemuda Indonesia memiliki faktor risiko pra-diabetes, terutama mereka yang hidup di kota besar.
Ini menunjukkan perubahan pola yang cepat. Jika dulu risiko diabetes meningkat di usia paruh baya karena proses penuaan, kini generasi muda sudah memikul beban yang sama lebih awal.
Gula, Minuman Manis dan Budaya Nongkrong
Jika penyakit adalah hasil dari pola hidup, maka diabetes pada generasi Z adalah hasil dari kombinasi gaya hidup urban yang sulit dihindari.
1. Konsumsi gula harian melebihi batas aman
WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan maksimal 50 gram per hari. Namun studi Kemenkes 2023 menemukan bahwa rata-rata remaja Indonesia mengonsumsi 2-3 kali lipat batas aman.
Minuman manis (boba, kopi susu kekinian, soda) menyumbang 60 persen asupan gula harian.
Satu gelas boba ukuran reguler mengandung 70–90 gram gula, cukup untuk melebihi batas harian hanya dalam satu kali minum.
2. Budaya nongkrong dan “minuman manis sebagai gaya hidup”. Minum kopi tidak lagi sekadar budaya; ia menjadi identitas sosial. Namun risikonya besar, kopi susu gula aren mengandung 300-450 kalori per gelas, thai tea 250-350 kalori, teh manis kemasan 20-30 gram gula per botol.
Kalori berlebih yang tidak dibakar tubuh akan berubah menjadi lemak dan meningkatkan resistensi insulin.
3. Kurang aktivitas fisik
Studi IDI menunjukkan lebih dari 50% generasi Z memiliki gaya hidup sedentary karena, kuliah atau kerja depan laptop, penggunaan transportasi motor, kurang olahraga teratur, screen time lebih dari 6 jam per hari. Parahnya, kombinasi gula tinggi ditambah minim aktivitas. Itu adalah resep utama menuju diabetes tipe 2.
Gejala Awal yang Sering Diabaikan
Banyak anak muda tidak menyadari bahwa tubuhnya sedang menunjukkan tanda-tanda awal diabetes.
Beberapa gejala yang sering dianggap remeh, mudah haus berlebihan; sering buang air kecil; berat badan tiba-tiba turun; kelelahan tanpa sebab; sering lapar meskipun baru makan; luka lama sembuh.
Masalahnya, generasi Z sering menganggap keluhan ini “normal” karena aktivitas padat atau begadang, padahal itu sinyal penting dari tubuh.
Dampak Jangka Panjang
Banyak yang menganggap diabetes sebagai penyakit yang “bisa diatur”.
Kenyataannya jauh lebih kompleks dan berbahaya terutama bila dimulai di usia muda.
Jika diabetes muncul di usia 20-an, komplikasi dapat muncul 10–20 tahun lebih cepat, meliputi:.
1. Penyakit jantung
2. Stroke
3. Gagal ginjal
4. Gangguan penglihatan (retinopati)
5. Penyakit saraf
6. Risiko amputasi
Artinya, generasi Z berpotensi memasuki usia 40-an dengan masalah kesehatan yang biasanya dialami lansia.
Tekanan Hidup dan Stres Kronis
Selain pola makan dan aktivitas fisik, kesehatan mental juga memainkan peran besar.
Studi Australian Psychological Medicine 2024 menemukan, bahwa stres kronis meningkatkan kadar hormon kortisol, yang memicu peningkatan gula darah.
Generasi Z berada dalam “era penuh tekanan”, mulai dari isu finansial, akademik, hingga karier.
Ini menjelaskan mengapa diabetes kini muncul pada kelompok usia yang secara fisik masih prima.
Bagaimana Mencegah Diabetes Tipe 2 pada Usia Muda?
Pencegahan paling efektif adalah perubahan pola hidup sederhana, bukan intervensi medis mahal.
1. Batasi minuman manis
2. Mulai aktivitas fisik minimal 30 menit sehari
3. Kurangi makanan cepat saji
4. Pemeriksaan gula darah rutin
5. Kelola stres
Apakah Generasi Z Masih Bisa Terlindungi? Jawabannya bisa, tapi harus mulai sekarang.
Naiknya kasus diabetes pada usia 20-an adalah wake up call bagi Indonesia.
Ini bukan sekadar soal gaya hidup, tetapi persoalan masa depan generasi produktif. Jika tren ini tidak dibendung, Indonesia berpotensi kehilangan jutaan anak muda produktif yang jatuh sakit lebih cepat dari generasi sebelumnya.
Diabetes di usia muda bukan nasib.
Ia adalah hasil pola hidup dan itu berarti bisa dicegah.
Pertanyaannya kini sederhana. Apakah generasi Z siap mengubah budaya minum manis dan gaya hidup demi masa depan yang lebih sehat?

