SAMARINDA: Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) menyatakan pengiriman atlet ke berbagai ajang kompetisi pada tahun 2026 akan melalui seleksi yang lebih ketat.
Kebijakan ini diambil sebagai respons atas tantangan fiskal daerah, sekaligus untuk memastikan setiap atlet yang membawa nama Kaltim memiliki peluang besar meraih medali.
Plt Kepala Dispora Kaltim, Muhammad Faisal, menjelaskan keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus menetapkan prioritas, terutama dalam persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII di NTT-NTB.
“Dengan kondisi fiskal yang terbatas, mau tidak mau kita harus selektif. Seleksi ketat ini bukan hanya karena anggaran minim, tapi untuk memastikan atlet yang dikirim benar-benar potensial membawa pulang medali,” ujar Faisal dalam Forum Group Discussion (FGD) konsultasi publik urusan kepemudaan dan keolahragaan di Samarinda, Selasa, 9 Desember 2025.
Faisal menegaskan strategi konsolidasi dilakukan dari hulu hingga hilir sejak proses pencarian atlet.
Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim yang dijadwalkan tahun depan menjadi pintu utama untuk mendapatkan atlet terbaik, sebelum masuk ke tahap Pra-PON.
“Nanti di Porprov kita harapkan muncul atlet-atlet unggul. Dari situ kita seleksi lagi untuk Pra-PON. Dan di Pra-PON pun, bukan hanya lolos, tapi kita langsung mulai program latihan intensif agar peluang medali benar-benar terukur,” jelasnya.
Menurutnya, pembatasan jumlah atlet bukan berarti melemahkan kekuatan Kaltim, melainkan justru menguatkan kontingen agar fokus pada cabang olahraga yang berpotensi meraih medali terbanyak.
Dispora juga membuka peluang kemitraan dengan sejumlah pemangku kepentingan untuk menutup kebutuhan pendanaan.
Sinergi dianggap penting agar pembinaan atlet tetap berjalan optimal meski APBD 2026 mengalami pemangkasan.
“Ini yang sedang kita gali di FGD hari ini. Kita evaluasi bersama, dan yang paling penting kita cari sumber-sumber lain selain pemerintah. Dunia usaha, BUMD, CSR, semua bisa kita ajak untuk maju bersama,” tegasnya.
Strategi pendanaan alternatif ini juga diharapkan memicu ekosistem olahraga yang lebih mandiri, tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
Terkait pembagian dana hibah untuk Tahun Anggaran (TA) 2026, penyesuaian ini berdampak signifikan pada sejumlah organisasi keolahragaan dan kepemudaan di Kaltim.
Kadispora menegaskan penentuan besaran alokasi berada di bawah keputusan Gubernur.
Dispora hanya menjalankan penyaluran sesuai penetapan.
“Itu sudah ketetapan gubernur. Kami hanya menyalurkan. Dengan keterbatasan anggaran, ya mau tidak mau harus diterima,” katanya.
Di tengah penghematan, Dispora Kaltim memastikan bahwa target jangka panjang daerah tetap fokus pada raihan prestasi di PON.
Persiapan berlapis dilakukan melalui Porprov, seleksi berjenjang, hingga pembinaan atlet unggulan.
“Target kita jelas: PON. Itu tahapannya panjang. Seleksi ketat ini justru untuk memastikan kita punya atlet berkualitas yang siap bertarung,” tutupnya.

