SAMARINDA: Risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Bencana alam, wabah penyakit, kecelakaan industri, hingga perubahan iklim merupakan ancaman nyata yang dapat terjadi kapan saja.
Namun, sering kali dampak risiko tersebut tidak hanya ditentukan oleh besarnya ancaman, melainkan oleh
bagaimana risiko itu dikomunikasikan kepada publik.
Menurutnya komunikasi risiko yang efektif merupakan kunci utama dalam menjaga keselamatan publik dan meminimalkan kepanikan maupun korban.
Komunikasi risiko bukan sekadar menyampaikan informasi bahaya, tetapi juga proses membangun pemahaman, kepercayaan, dan kesiapsiagaan masyarakat. Ketika informasi disampaikan secara jelas, jujur, dan tepat waktu, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan yang rasional.
“Sebaliknya, komunikasi yang lambat, ambigu, atau tertutup justru membuka ruang bagi kesalahpahaman, rumor, dan kepanikan massal,”ungkap Mallisa Leslye Agustin kepada media, Jumat, 2 Januari 2026.
Pengalaman berbagai krisis menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi sering kali memperparah situasi. Informasi yang tidak konsisten antara otoritas, penggunaan istilah teknis yang sulit dipahami, atau kecenderungan meremehkan risiko demi menjaga citra dapat menggerus kepercayaan publik.
Ketika kepercayaan hilang, imbauan keselamatan sekalipun cenderung diabaikan. Dalam konteks ini, komunikasi
risiko bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan etika dan tanggung jawab publik.
“Transparansi merupakan fondasi utama komunikasi risiko. Masyarakat berhak mengetahui potensi bahaya yang mengancam mereka, termasuk ketidakpastian yang menyertainya,”terangnya.
Selain itu, risiko secara terbuka tanpa menakut-nakuti, tetapi juga tanpa menutup-nutupi, membantu publik memahami situasi secara proporsional. “Kejujuran semacam ini justru memperkuat legitimasi otoritas di mata masyarakat,”terangnya.
Selain transparansi, empati juga memegang peran penting. Komunikasi risiko yang terlalu birokratis dan kaku sering gagal menyentuh sisi kemanusiaan publik.
Bahasa yang sederhana, contoh konkret, serta pengakuan terhadap kekhawatiran masyarakat membuat pesan keselamatan terasa lebih dekat dan relevan. “Ketika masyarakat merasa dipahami, mereka cenderung lebih patuh terhadap arahan yang diberikan,”jelasnya.
Di era digital, tantangan komunikasi risiko semakin kompleks. Arus informasi yang cepat memungkinkan hoaks dan disinformasi menyebar lebih luas daripada klarifikasi resmi.
“Oleh karena itu, saya melihat perlunya strategi komunikasi risiko yang adaptif, memanfaatkan berbagai platform, dan melibatkan tokoh masyarakat yang dipercaya,”ucapnya.
Komunikasi tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dialog yang membuka ruang umpan balik dari publik.
Pada akhirnya, komunikasi risiko yang baik tidak menjamin hilangnya bencana, tetapi mampu mengurangi dampaknya secara signifikan.
“Keselamatan publik bukan hanya ditentukan oleh kebijakan dan teknologi, melainkan juga oleh kualitas komunikasi antara pemerintah, ahli, dan masyarakat,”jelasnya.
“Dengan komunikasi risiko yang transparan, empatik, dan kredibel, keselamatan publik dapat dijaga bukan melalui ketakutan,melainkan melalui kesadaran bersama,”sambungnya.

