SAMARINDA: Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menilai SMA Negeri 16 Samarinda berhasil membangun ekosistem prestasi yang kuat dan berkelanjutan melalui konsistensi pembinaan, inovasi apresiasi, serta kolaborasi antara siswa dan guru.
Hal tersebut disampaikan menyusul penyerahan penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi dan guru pengampu mata pelajaran usai upacara di halaman sekolah, Senin, 12 Januari 2026.
Ketua Dewan Pendidikan Kaltim, Adjrin, menyebut langkah SMAN 16 memberikan penghargaan berbasis capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai terobosan positif di tengah tantangan peningkatan mutu pendidikan secara nasional.
“Yang kita lihat hari ini adalah sebuah praktik baik. SMA Negeri 16 memberikan reward kepada siswa yang memperoleh nilai TKA tertinggi, dan pada saat yang sama juga memberikan penghargaan kepada guru pengampu mata pelajaran yang diujikan. Ini menunjukkan bahwa prestasi tidak dilihat secara parsial, tetapi dibangun sebagai satu kesatuan sistem,” ujar Adjrin.
Menurutnya, pendekatan tersebut mencerminkan pemahaman keberhasilan akademik peserta didik tidak dapat dilepaskan dari peran guru, manajemen sekolah, serta iklim pembelajaran yang kondusif.
Karena itu, penghargaan yang diberikan tidak semata-mata bersifat simbolik, melainkan menjadi instrumen strategis untuk mendorong peningkatan kualitas.
“Kami dari Dewan Pendidikan Provinsi Kaltim tentu sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh satuan pendidikan SMA Negeri 16 Samarinda. Ini merupakan inovasi pemikiran yang cemerlang dan patut ditularkan ke sekolah-sekolah lain, baik SMA negeri maupun swasta di Kalimantan Timur,” tegasnya.
Adjrin menambahkan, secara nasional capaian Tes Kemampuan Akademik masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Oleh sebab itu, inisiatif sekolah yang berani membangun motivasi melalui sistem apresiasi dinilai relevan dan kontekstual dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
“Kita tahu, secara nasional capaian TKA masih perlu banyak penguatan. Dengan adanya terobosan seperti ini memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi sekaligus kepada guru pengampu maka budaya belajar, budaya mengajar, dan budaya berprestasi bisa tumbuh secara bersamaan,” jelasnya.
Ia juga menilai, apa yang dilakukan SMAN 16 Samarinda menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran yang membentuk daya nalar kritis, kemampuan problem solving, serta sportivitas akademik.
“Reward ini bukan soal besar kecilnya hadiah. Yang jauh lebih penting adalah pesan yang disampaikan kepada siswa dan guru, bahwa kerja keras, proses yang konsisten, dan kualitas itu dihargai,” ujarnya.
Sebelumnya, SMAN 16 Samarinda menyerahkan penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi di bidang akademik, khususnya capaian TKA, serta berbagai prestasi nonakademik di tingkat daerah hingga nasional.
Sekolah juga memberikan apresiasi kepada guru pengampu mata pelajaran dengan raihan capaian terbaik, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan peran pendampingan dalam proses belajar mengajar.
Menurut Dewan Pendidikan Kaltim, langkah tersebut menjadi indikator bahwa SMAN 16 Samarinda tidak hanya mencetak prestasi individual, tetapi juga tengah membangun ekosistem pendidikan yang sehat di mana siswa, guru, dan manajemen sekolah saling menguatkan dalam satu visi peningkatan mutu.
“Harapan kami, praktik baik ini tidak berhenti di SMA Negeri 16 saja. Semoga bisa menjadi inspirasi dan tertular ke sekolah-sekolah lain di Kalimantan Timur, sehingga kualitas pendidikan kita tumbuh secara merata dan berkelanjutan,” pungkas Adjrin.

