Laporan Wartawan Narasi.co, Ira Nur Ajijah
Tanah Baduy bukan sekadar wilayah adat. Ia adalah cara hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh tentang batas. Batas pada alam, pada manusia, dan pada keinginan untuk tidak berlebihan.
Di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sekitar 16 ribu jiwa hidup dalam tatanan adat yang dijaga turun-temurun.

Mereka tersebar di enam puluh delapan kampung, terdiri dari enam puluh lima kampung Baduy Luar dan tiga kampung Baduy Dalam. Tiga kampung Baduy Dalam, Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik, menjadi pusat ketaatan adat paling ketat.
Sementara Baduy Luar berada di lingkar yang berinteraksi terbatas dengan dunia luar. Di sini, hidup tidak diarahkan untuk mengejar perubahan, melainkan menjaga keseimbangan.
Dalam ruang hidup itulah sekitar 50 wartawan dan sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia mendapat kesempatan hadir sebagai peserta Kemah Budaya Hari Pers Nasional 2026.

Selama dua hari satu malam, kami tidak datang untuk menaklukkan jarak atau mencari sensasi, melainkan belajar berjalan pelan dan memahami arti menjadi tamu.
Perjalanan dimulai pada Jumat pagi, 16 Januari 2026. Tepat pukul 6.27, dua bus meninggalkan halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat. Suasana di dalam bus masih sangat kota. Tawa, obrolan, dan nyanyian karaoke mengalir ringan.
Kami singgah di Museum Multatuli sekitar pukul 8.40 disambut Pemerintah Kabupaten Lebak. lalu kembali melaju menjelang siang menuju Ciboleger. Seiring waktu berjalan, jalanan mulai berubah. Aspal rusak, lubang-lubang dipenuhi air, jalur berkelok dan naik turun.
Tiga puluh tiga kilometer ditempuh hampir tiga jam. Pukul 16.00, bus berhenti. Dari titik itu, perjalanan bermesin berakhir.
Begitu turun dari bus di area parkir Ciboleger, rombongan kami langsung diserbu warga yang menjajakan tongkat kayu. Harganya seragam, lima ribu rupiah. Tongkat-tongkat itu sederhana, namun tampak akrab di tangan orang-orang yang sudah terbiasa menapaki jalur tanah Baduy.
Banyak dari kami membelinya. Saya pun termasuk, mengambil satu tanpa banyak pikir, seolah sadar bahwa perjalanan selanjutnya memang tidak bisa ditempuh dengan tergesa.
Dari parkiran bus, kami berjalan kaki sekitar sepuluh menit hingga tiba di tugu Ciboleger. Di titik ini, langkah sejenak berhenti.
Kami mengabadikan momen lewat foto, menandai peralihan dari perjalanan bermesin menuju perjalanan yang sepenuhnya mengandalkan kaki. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan. Jalur sedikit menanjak, tampak samping kiri–kanan jalanan berjejer toko-toko seperti sembako hingga oleh-oleh milik warga Desa Ciboleger.
Sekitar tujuh menit berjalan, kami akhirnya memasuki kawasan Baduy Luar, tepatnya Kampung Kadu Ketug 1, Desa Kanekes. Tidak ada gerbang besar atau penanda mencolok. Perubahannya terasa justru lewat suasana. Rumah-rumah bambu beratap daun nyanda mulai terlihat, langkah melambat, dan percakapan menjadi seperlunya.
Tak lama setelah tiba, kami langsung menyambangi Rumah Kajaroan, tempat tinggal kepala desa Kanekes. Di sinilah pertemuan pertama kami dengan Jaro Oom berlangsung. Nama lengkapnya Mohamad Saefudin.
Di usia empat puluh tiga tahun, ia tercatat sebagai jaro termuda dalam sejarah Kanekes. Rumah Kajaroan berfungsi sebagai rumah dinas. Selama menjabat, kepala desa tinggal di sini bersama keluarga, sebelum kembali ke rumah pribadinya setelah masa tugas berakhir.
Dalam obrolan yang berlangsung santai, Jaro Oom menjelaskan banyak hal tentang Baduy yang kerap disalahpahami. Ia menegaskan bahwa Baduy bukan desa wisata, melainkan ruang budaya yang harus dijaga. Tidak semua hal boleh dilihat, didokumentasikan, atau dipublikasikan.
“Baduy ini punya aturan sendiri. Ada yang boleh didokumentasikan, ada yang tidak. Terutama Baduy Dalam, itu tidak untuk dipublikasikan. Kalau mau keliling, sebaiknya didampingi orang Baduy, supaya tahu mana yang boleh dan mana yang tidak,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat Baduy tidak menolak dikenal, tetapi ingin dikenalkan dengan cara yang benar.
“Kami ingin kearifan lokal dikenal anak negeri, bahkan ke luar, tapi tetap sesuai adat. Baduy ini bukan untuk dijadikan objek wisata, tapi ruang budaya yang harus dijaga,” katanya.
Kami bermalam di Baduy Luar, tepatnya di Kampung Kadu Ketug 1. Homestay yang saya tempati bersama 7 wartawati–sastrawan adalah rumah milik Ambu Alis, perempuan berusia dua puluh enam tahun.
Letaknya berada persis di perbatasan dengan Desa Ciboleger dan tidak jauh dari rumah Jaro Oom. Meski berada di wilayah perlintasan, suasana kampung ini sudah sepenuhnya Baduy. Ritme hidupnya pelan, percakapan seperlunya, aktivitas berjalan apa adanya tanpa adanya listrik dan lalu lalang kendaraan bermotor.
Rumah panggung dari bambu itu sederhana dan bersih. Tidak ada kamar mandi di dalam rumah. Untuk mandi dan buang air, kami harus berjalan sekitar satu menit menuju WC umum milik warga Desa Ciboleger.
Jaraknya dekat dan mudah dijangkau. Keterbatasan itu tidak terasa sebagai kekurangan, melainkan bagian dari penyesuaian yang wajar bagi tamu.
Di teras rumah Ambu Alis, kain tenun, gelang, gantungan kunci, dan tas rotan dipajang apa adanya. Tidak ditata untuk memikat, tidak pula dipaksakan untuk dijual.
Barang-barang itu hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Siapa yang ingin membeli dipersilakan, siapa yang hanya melihat pun tidak dipersoalkan.
Menjelang magrib, hujan turun membasahi perkampungan Baduy.
Seusai isya, makan malam disajikan di rumah Ambu Alis. Sayur asam, ayam goreng, ikan asin, lalapan, dan sambal tersaji di tengah rumah. Tidak ada yang mewah, namun dimakan bersama di bawah cahaya lampu temaram, rasanya terasa hangat. Hampir semua menambah nasi.
Malam itu kebetulan musim durian. Kami patungan membeli durian khas Baduy. Tiga buah habis. Bahkan seorang teman yang sebelumnya belum pernah makan durian ikut mencicipi satu biji karena penasaran dan karena sedang berada di Baduy.
Di luar rumah, gerimis tidak menghentikan langkah warga Baduy dan wisatawan yang masih berlalu-lalang.
Kami menyempatkan mengobrol dengan Ano, suami Ambu Alis, tentang keseharian hidup di Baduy. Ceritanya mengalir sederhana, tanpa keluhan. Sekitar pukul sepuluh malam, kami beristirahat.
Pagi Sabtu, 18 Januari, gerimis masih turun. Sabtu pagi, Pukul 06.00, kami dijadwalkan menjelajah kampung-kampung Baduy Luar. Namun hujan yang masih turun membuat rencana itu tidak diikuti semua peserta. Beberapa memilih tetap beristirahat, sementara yang lain memanfaatkan waktu untuk melihat aktivitas warga Baduy di ladang. Saya memilih tetap melangkah, menyusuri Baduy Luar hingga melewati empat kampung.
Di sepanjang perjalanan, kehidupan Baduy bergerak seperti biasa. Warga berlalu lalang tanpa tergesa. Rombongan remaja puteri tampak berjalan beriringan menuju ladang, mengenakan kebaya hitam dengan kain rok hitam bermotif biru tua. Balita turut dibawa oleh ibunya, digendong menyatu dengan langkah menuju bukit.
Di jalur yang sama, para remaja putera terlihat penuh semangat memikul durian dan belanjaan dari luar Baduy, langkah mereka mantap meski jalur licin oleh hujan.
Sesekali tampak pula warga Baduy Dalam melintas. Mereka mudah dikenali dari ikat kepala putih, pakaian serba putih, dan kaki yang menapak tanah tanpa alas. Mereka berjalan tenang, melewati kami tanpa banyak kata, seolah hujan dan jalan licin bukanlah sesuatu yang perlu dikeluhkan.
Di momen itulah saya merasa benar-benar berada di Baduy, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai tamu yang sedang menyaksikan kehidupan berjalan apa adanya.
Hujan semakin lebat saat kami tiba di Kampung Ketug Dua. Kami rehat di rumah warga dan berbincang singkat dengan remaja setempat, lalu melanjutkan perjalanan ke Kampung Ketug Tiga. Medan semakin licin dan terjal. Tongkat kayu yang saya beli di Ciboleger kembali terasa fungsinya.
Di Kampung Legok Jeruk, kami singgah di sebuah warung kecil. Seorang remaja bernama Armad, berusia 13 tahun, duduk memainkan alat musik kecemplung. Kami menyanyikan Manuk Dadali, diiringi alunan musik sederhana dari jemarinya. Lagu itu selesai, tetapi suasananya tinggal lebih lama dari bunyinya.
Dalam perjalanan pulang, kami memilih jalur berbeda untuk melihat leuit, lumbung padi milik warga Baduy. Leuit berdiri terpisah dari rumah, berbentuk panggung kayu dan bambu. Padi yang disimpan di dalamnya umumnya padi merah hasil panen sendiri.
Padi ini tidak digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Beras dari leuit hanya boleh diambil dalam keadaan tertentu, seperti upacara adat atau kondisi darurat. Untuk kebutuhan nasi harian, masyarakat Baduy membeli beras putih dari luar. Leuit dengan demikian menjadi simbol cadangan hidup dan pengingat agar tidak menghabiskan segalanya hari ini.
Di homestay, sarapan telah siap. Nasi goreng, sambal, kerupuk, lalapan, dan tongkol goreng tersaji di tengah rumah. Terlihat sederhana namun rasanya nikmat tiada tara.
Setelah berkemas, perserta diarahkan untuk bersiap meninggalkan homestay. Tak lupa juga kami mendukung UMKM Warga Baduy dengan membeli buah tangan dari Ambu Alis. Kami berpamitan dan berfoto bersama.
Satu kejadian sempat menahan kepulangan. Seorang rekan belum kembali ke bus karena salah informasi rute dan melanjutkan perjalanan lebih jauh. Ia akhirnya diantar warga Baduy Dalam hingga keluar kawasan. Kepulangan pun molor hampir dua jam.
Menjelang tengah hari, seluruh rombongan lengkap. Bus bergerak kembali menuju Museum Multatuli untuk makan siang, berganti kendaraan, lalu pulang ke titik awal.
Dua hari satu malam di Tanah Baduy tidak menghadirkan sensasi besar atau kemewahan. Yang tersisa justru pengalaman berjalan pelan, makan sederhana, berbincang seperlunya, dan belajar tentang batas.
Mencintai Tanah Baduy, bagi saya, bukan tentang seberapa banyak yang bisa dibawa pulang dalam bentuk foto atau cerita. Ia tentang kesediaan untuk menahan diri, menghormati yang tidak boleh disentuh, dan pulang dengan sikap yang berubah. Dua hari di Baduy cukup untuk mengajarkan bahwa menjadi tamu adalah seni, dan menjaga batas adalah bentuk cinta yang paling jujur.

