SAMARINDA: Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan langkah teknis jangka pendek hingga panjang untuk mengatasi keluhan air bersih yang keruh, menghitam, dan berbau, khususnya di wilayah Bengkuring dan sekitarnya.
Upaya yang dilakukan meliputi pembersihan pipa dengan metode wash out, pemotongan pipa di ujung jaringan, hingga membuka meteran air pelanggan secara terkoordinasi.
Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Kota Samarinda sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, Marnabas Patiroy, menjelaskan permasalahan utama disebabkan endapan dan kerak yang menumpuk di jaringan pipa distribusi berusia puluhan tahun.
Kondisi tersebut diperparah oleh aliran air yang tidak maksimal akibat penyempitan diameter pipa.
“Di Bengkuring itu air bakunya memang berbeda. Di pipanya sudah terjadi endapan dan menghitam. Setiap dilakukan pembersihan, kami selalu sampaikan lewat RT agar warga membuang airnya dan tidak ditampung,” ujarnya, Rabu, 4 Februari 2026.
Namun, ia mengakui masih ada warga yang tidak mengetahui atau lupa membuang air usai pembersihan pipa.
Karena itu, Dewan Pengawas meminta PDAM tidak hanya mengandalkan imbauan.
“Saya sudah minta ke PDAM, kalau ada pembersihan pipa, buka saja kilometernya atau di ujungnya dipotong. Jadi air kotor itu terbuang sendiri,” tegasnya.
Untuk jangka pendek, pembersihan pipa akan dilakukan rutin setiap pekan, disertai wash out dan pembukaan meteran pelanggan per blok agar endapan keluar secara maksimal.
Pada jangka menengah, Pemkot merencanakan penggantian pipa lama sepanjang sekitar 30 kilometer secara bertahap.
Setiap tahun, beberapa kilometer pipa akan diperbarui hingga seluruh jaringan terganti.
Sementara solusi jangka panjangnya adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru di wilayah hulu sekitar Loa Kulu.
IPA ini juga disiapkan sebagai antisipasi saat musim kemarau panjang dan untuk menjaga kualitas air baku dari intrusi air laut.
“Pesan Pak Wali ada tiga, pertama tahun 2029 seluruh masyarakat harus terlayani air bersih. Kedua, kualitas air harus ditingkatkan. Ketiga, layanan air stabil 24 jam,” kata Marnabas.
Pemkot menegaskan komitmennya menjawab keluhan masyarakat dengan tindakan nyata dan sistematis, serta tidak menjadikan usia pipa sebagai alasan pembenaran atas persoalan kualitas air.

