BALIKPAPAN: Sumadi tak pernah bercita-cita menjadi kuli bangunan. Namun keterbatasan hidup membawanya menekuni dunia konstruksi sejak lulus SMA.
Pria kelahiran Kediri, 1974 ini, telah menghabiskan lebih dari tiga dekade bekerja dari satu proyek ke proyek lain, dengan segala risiko keselamatan dan ketidakpastian upah.
“Bukan karena tidak mau kuliah, tapi karena kondisi,” ujar Sumadi, Kamis, 5 Februari 2026.
Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, Sumadi terbiasa bekerja sejak muda.
Usai SMA, ia langsung menjadi kuli bangunan.
Dari mengaduk semen hingga bekerja di gedung bertingkat, pekerjaan itu terus ia jalani meski lokasi berganti-ganti.
Tahun 2014, Sumadi merantau ke Kalimantan Timur dan bekerja di Samarinda.
Ia mengaku kerap bekerja tanpa perlengkapan keselamatan memadai, terutama saat ikut sistem borongan.
“Saya pernah ditegur anggota dewan karena kerja tidak pakai safety. Tapi waktu itu ya namanya kuli, ikut pemborong. Kadang alatnya tidak ada,” kenangnya.
Setelah Samarinda, ia sempat bekerja di Bontang, Malino, hingga Makassar.
Pengalaman paling pahit dialaminya di Makassar saat bekerja dua bulan tanpa menerima gaji.
“Itu yang paling berat. Kerja sudah, capek sudah, tapi tidak digaji. Akhirnya saya pulang,” katanya.
Menurut Sumadi, keterlambatan upah adalah risiko yang hampir selalu dihadapi kuli bangunan.
“Harapan saya cuma satu, jangan sampai kuli bangunan tidak dibayar,” tegasnya.
Pada 2025, Sumadi kembali ke Kalimantan Timur dan kini bekerja di Sangatta.
Meski usia bertambah dan tenaga berkurang, ia tetap bertahan demi keluarga.
“Selama masih sehat, ya kerja. Ini sudah jadi hidup saya,” ujarnya.
Ia menilai risiko terbesar pekerja bangunan adalah keselamatan kerja, terutama saat bekerja di ketinggian tanpa jaminan perlindungan.
“Kalau jatuh, ya tanggung sendiri,” katanya.
Sumadi memiliki dua anak dan berharap mereka kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Ia bermimpi suatu hari bisa membuka usaha kecil di kampung halamannya agar tak terus bergantung pada pekerjaan fisik.
“Kalau ada modal, ingin usaha di rumah. Biar tidak selamanya kerja bangunan,” ujarnya.
Kisah Sumadi terungkap dari perbincangan singkat bersama Narasi.co di atas kapal feri rute Balikpapan-Surabaya.
Saat itu, ia hendak pulang ke Kediri untuk berkumpul dengan keluarga hingga Idulfitri, sebelum kembali ke Sangatta dan melanjutkan rutinitasnya sebagai pekerja bangunan.

