JAKARTA: Tidak semua makanan yang dianggap sehat memberikan dampak yang sama pada setiap orang.
Inilah alasan mengapa sebagian orang merasa tubuhnya lebih ringan setelah mengonsumsi makanan tertentu, sementara yang lain justru mengalami gangguan pencernaan meski mengonsumsi makanan yang sama.
Konsep ini dijelaskan oleh dr. Titi Moertolo melalui pendekatan diet golongan darah, yang bertujuan memahami hubungan antara jenis golongan darah dan respons tubuh terhadap makanan.
Menurut dr. Titi, golongan darah berkaitan dengan cara kerja sistem pencernaan, metabolisme, serta reaksi imun tubuh.
Karena itu, respons terhadap makanan bisa berbeda meskipun kandungan gizinya sama.
“Pendekatannya bukan soal melarang makan, tetapi menyesuaikan pilihan makanan agar tubuh bekerja lebih efisien dan tidak terbebani,” jelas dr. Titi kepada Narasi.co saat ditemui di kliniknya di Jalan Bendungan Jatiluhur No. 76, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Februari 2026.
Berikut penjelasan diet berdasarkan golongan darah A, AB, O, dan B yang dipaparkan dr. Titi Moertolo.
Golongan Darah A: Lebih Cocok Pola Nabati
Pemilik golongan darah A dinilai lebih cocok dengan pola makan berbasis nabati dan rendah lemak hewani.
Konsumsi daging merah dan produk susu tertentu kurang optimal bagi metabolisme golongan darah ini.
Sebaliknya, sayuran hijau, buah-buahan segar, serta sumber protein nabati seperti kedelai, tempe, dan tahu lebih dianjurkan.
Minyak zaitun dan teh hijau juga disebut lebih bersahabat bagi tubuh golongan darah A.
Golongan Darah AB: Perlu Keseimbangan Ketat
Golongan darah AB merupakan kombinasi dari golongan A dan B sehingga membutuhkan pengaturan makan yang lebih selektif.
Tidak semua makanan yang baik untuk A atau B otomatis cocok bagi AB.
Protein seperti ikan dan kalkun lebih disarankan, sementara daging merah tertentu, unggas, serta beberapa jenis makanan laut perlu dibatasi.
Pola makan seimbang dengan porsi terkontrol menjadi kunci bagi golongan darah ini.
Golongan Darah O: Lebih Toleran Protein Hewani
Golongan darah O umumnya memiliki sistem pencernaan yang lebih kuat terhadap protein hewani.
Daging tanpa lemak, ikan, serta sayuran hijau dinilai cocok untuk menjaga energi dan metabolisme.
Namun, produk susu, gandum, dan makanan olahan dianjurkan untuk dibatasi karena dapat mengganggu keseimbangan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan.
Golongan Darah B: Fleksibel dengan Catatan
Dibandingkan golongan lain, golongan darah B relatif lebih fleksibel dalam menerima variasi makanan.
Meski demikian, beberapa jenis makanan tetap perlu dibatasi, terutama unggas tertentu, gandum, dan beberapa makanan laut.
Pola makan seimbang dengan kombinasi protein hewani, sayuran, dan buah-buahan dinilai lebih mendukung kebugaran tubuh golongan darah B.
dr. Titi menegaskan bahwa diet golongan darah bukan metode pengobatan dan tidak dimaksudkan sebagai klaim penyembuhan penyakit.
Pendekatan ini berfungsi sebagai panduan untuk mengenali respons tubuh dan membantu pengaturan pola makan sehari-hari.
Setiap individu tetap perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan pribadi, riwayat penyakit, serta berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menerapkan perubahan pola makan secara signifikan.
Diet golongan darah menawarkan sudut pandang bahwa konsep “makan sehat” tidak selalu seragam bagi semua orang.
Dengan memahami karakter tubuh masing-masing, seseorang dapat memilih makanan secara lebih sadar dan proporsional.
Seperti ditegaskan dr. Titi Moertolo, kunci pola makan terletak pada keseimbangan, pemahaman terhadap tubuh, dan konsistensi dalam jangka panjang.

