SAMARINDA: Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus Korwil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Samarinda Hariyono menjelaskan alasan masih adanya sejumlah sekolah negeri di Samarinda yang belum menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk SD Negeri 16 Sungai Kunjang dan SMA Negeri 14 Samarinda.
Hariyono menyebut, kendala utama terletak pada kesiapan mitra pelaksana SPPG. Setiap mitra diwajibkan menyediakan sarana, prasarana, serta infrastruktur bangunan sesuai standar sebelum dapat menyalurkan MBG ke sekolah-sekolah.
“Di Samarinda masih ada beberapa mitra yang belum menyelesaikan renovasi infrastrukturnya. Akibatnya, ada sekolah yang belum bisa menerima MBG,” jelas Hariyono, Jumat 6 Februari 2026.
Selain itu, keterbatasan kapasitas SPPG juga menjadi faktor. Setiap satu SPPG maksimal hanya dapat melayani hingga 3.000 porsi per hari.
Saat ini, sebagian SPPG telah mencapai batas maksimal, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap peningkatan kapasitas.
“SPPG yang belum naik porsi itu dilakukan bertahap. Tidak bisa langsung naik. Minimal harus terbit dulu SLHS-nya, baru bisa menambah jumlah porsi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah-sekolah di Kecamatan Sungai Kunjang, termasuk SDN 16 dan SMA Negeri 14, pada prinsipnya masuk dalam sasaran layanan SPPG terdekat.
Namun realisasi penyaluran MBG dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan dapur dan kapasitas layanan.
Selain faktor kapasitas, Hariyono menyebut jarak sekolah dari dapur SPPG juga menjadi pertimbangan. Setiap SPPG hanya dapat melayani sekolah dalam radius maksimal enam kilometer.
“Bisa saja sekolah itu lepas dari radius SPPG, atau SPPG-nya belum memiliki SLHS. Jadi faktornya bisa lebih dari satu,” katanya.
Saat ini, kata Hariyono, terdapat sekitar 40 SPPG yang sudah beroperasional di Samarinda. Dari jumlah tersebut, 26 SPPG telah mengantongi Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara sisanya masih dalam proses pengurusan.
“Target kita sebenarnya ada 84 SPPG. Kalau semua itu berdiri, insyaallah seluruh sekolah di Samarinda bisa ter-cover MBG,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan, Hariyono memastikan program tetap berjalan. Namun, mekanisme penyalurannya disesuaikan.
“Selama Ramadan tetap dapat MBG. Arahan terakhir, siswa yang berpuasa akan menerima paket kering, bukan makanan siap santap. Paket ini bisa dikonsumsi saat berbuka puasa,” pungkasnya.

