SERANG: Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa, menggarisbawahi pentingnya peningkatan standar kemitraan antara pemerintah dan media siber lewat proses verifikasi media anggota JMSI di Dewan Pers sebagai syarat dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah.
Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) JMSI yang digelar di Kota Serang, Provinsi Banten, Sabtu, 7 Februari 2026.
Dalam arahannya, Teguh menyatakan sudah saatnya pemerintah pusat maupun daerah menjalin kerja sama resmi dengan media siber yang telah terverifikasi oleh Dewan Pers. Langkah ini bukan gebrakan baru, usulan ini pernah dibahas pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-3 JMSI di Samarinda 2024 sebelumnya.
Saat Rakernas tersebut, Teguh Santosa menegaskan jika JMSI berkomitmen untuk memperkuat ekonomi media siber sebagai salah satu prioritas utama di tahun 2025.
Ia menyadari usulan ini berpotensi menimbulkan perdebatan internal, mengingat belum semua anggota JMSI telah memenuhi syarat verifikasi Dewa Pers. Namun, Teguh menilai standar ini justru menjadi dorongan kolektif bagi perusahaan pers untuk berbenah dan memenuhi ketentuan profesionalisme.
“Kalau sampai 2026 masih ada anggota kita yang belum terverifikasi, itu juga menjadi refleksi bagi kita bersama. Proses verifikasi memang berada di Dewan Pers, tetapi tanggung jawab melengkapi berkas ada di kita,” ujarnya.
Rakornas JMSI di Serang sendiri dihadiri oleh pengurus dan perwakilan JMSI dari berbagai provinsi. Selain membahas isu kemitraan, forum ini juga menjadi ruang konsolidasi organisasi menjelang berbagai agenda nasional pers.
Sejumlah peserta menyambut positif gagasan tersebut, meski meminta adanya pendampingan lebih intensif bagi media daerah dalam proses verifikasi faktual. Mereka menilai kebijakan ini bisa meningkatkan kredibilitas media siber sekaligus memperjelas ekosistem kemitraan dengan pemerintah.
Rakornas JMSI di Banten direncanakan berlangsung dua hari dengan sejumlah sesi diskusi strategis terkait regulasi pers, keselamatan pekerja media, serta keberlanjutan bisnis media di tengah diskusi digital.

