JAKARTA: Persaingan dengan industri perkapalan global, khususnya China, menjadi perhatian utama dalam agenda revitalisasi galangan kapal nasional.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai penguatan daya saing industri dalam negeri hanya dapat terwujud apabila diiringi keberpihakan kebijakan pemerintah serta kolaborasi erat dengan industri strategis nasional.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, mengatakan isu membanjirnya kapal impor yang lebih murah dan diproduksi lebih cepat telah dibahas secara mendalam bersama pemerintah.
Menurutnya, Indonesia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan mekanisme pasar apabila ingin membangun industri galangan kapal yang kuat dan berkelanjutan.
Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China mampu menjadi pemain utama dunia karena adanya dukungan kebijakan negara yang konsisten dan terarah.
“Tadi sudah didiskusikan panjang lebar bagaimana meningkatkan daya saing kita secara bertahap. Kita bisa melihat bagaimana Jepang, Korea, dan China membangun industri yang kuat. Dan itu jelas membutuhkan keberpihakan kebijakan,” ujar Anindya usai forum Revitalisasi Galangan Kapal dan Pelayaran Indonesia di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menilai sinyal keberpihakan pemerintah mulai terlihat, terutama dari sisi kebijakan fiskal dan perencanaan industri jangka panjang.
Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian disebut telah menunjukkan komitmen untuk menyusun strategi bersama dunia usaha.
“Tadi terlihat dari Menteri Keuangan Pak Purbaya yang ingin kebijakan fiskalnya berpihak, dan juga dari Kementerian Perindustrian yang ingin menyusun roadmap industri bersama pelaku usaha,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Kadin juga mengusulkan keterlibatan langsung dalam satuan tugas (Satgas) lintas kementerian agar hambatan yang dihadapi dunia usaha dapat diidentifikasi dan diselesaikan secara lebih cepat.
“Saya menyampaikan kepada Menteri Keuangan, jika Kadin diperbolehkan menjadi bagian dari Satgas, kami siap membantu mengurai hambatan dunia usaha. Karena pada esensinya, pengusaha ingin berkembang dan menciptakan lapangan kerja,” kata Anindya.
Terkait strategi revitalisasi, Kadin menegaskan kebangkitan industri galangan kapal nasional tidak hanya bertumpu pada pemain baru, tetapi juga membutuhkan penguatan dan kolaborasi dengan perusahaan strategis nasional, seperti PT PAL Indonesia.
Menurut Anindya, PT PAL memiliki peran kunci dalam membangun ekosistem industri perkapalan yang kompetitif dan berdaya saing global.
“Kami ingin gotong royong bersama PT PAL sebagai industri besar. Ujungnya harus kompetitif, biaya harus bersaing, dan tidak boleh ada perantara yang memperberat struktur biaya,” jelasnya.
Ia menilai PT PAL telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi teknologi maupun kinerja keuangan.
Pencapaian tersebut menjadi modal penting bagi kebangkitan industri galangan kapal nasional.
“PT PAL harus diakui memiliki teknologi tinggi. Dalam tiga sampai empat tahun terakhir, pencapaiannya besar. Dari sisi keuangan, sebelumnya bisa dibilang kategori lima, sekarang sudah kategori satu. Mereka juga mampu membangun kapal selam tanpa awak, sistem persenjataan, hingga proyek Fregat Merah Putih. Ini kekuatan yang harus kita sinergikan,” pungkas Anindya.

