SAMARINDA: Bentang Alam Wehea-Kelay di Kalimantan Timur mencatat penambahan signifikan keanekaragaman hayati flora dan fauna dalam dua dekade terakhir.
Berdasarkan hasil pemantauan dan pembaruan data terbaru Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), sedikitnya 275 jenis baru berhasil teridentifikasi.
Dengan demikian, total spesies yang tercatat di kawasan tersebut kini mencapai 1.618 jenis flora dan fauna.
Angka ini meningkat signifikan dibandingkan hasil penelitian pada 2016 yang mencatat 1.343 jenis.
Spesialis Konservasi Spesies Terancam Punah YKAN, Arif Rifqi, menjelaskan bahwa inventarisasi tersebut merupakan bagian dari pemantauan jangka panjang yang dimulai sejak 2015 dan diperbarui secara berkala hingga Januari 2026.
“Setelah dilakukan pembaruan data bersama PBPH, ranger, dan mitra riset, ada 275 jenis tambahan yang kini teridentifikasi di Wehea–Kelay,” ujar Arif dalam acara penandatanganan komitmen bersama Forum Wehea–Kelay untuk Multi Usaha Kehutanan dan Habitat Orangutan di Midtown Hotel Samarinda, Rabu, 11 Februari 2026.
Pemantauan dilakukan secara kolaboratif bersama pemegang konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), tim ranger Hutan Lindung Wehea, serta peneliti dari berbagai lembaga, termasuk Universitas Mulawarman dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Metode yang digunakan meliputi patroli lapangan, pemasangan kamera jebak (camera trap), penggunaan acoustic recording unit atau alat perekam suara satwa, hingga analisis tutupan hutan berbasis citra satelit.
Arif menjelaskan, proses pengumpulan data di seluruh lanskap membutuhkan waktu hampir dua tahun, mengingat luas kawasan yang mencapai sekitar 500 ribu hektare serta tantangan akses di sejumlah titik.
“Kami menyisir hampir seluruh bentang alam tersebut. Tidak dilakukan terus-menerus selama dua tahun, tetapi bertahap hingga seluruh sampel terpetakan,” katanya.
Selain pencatatan jenis, pemantauan juga difokuskan pada dua satwa kunci, yakni orangutan dan owa.
Berdasarkan identifikasi terbaru, populasi orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay diperkirakan mencapai sekitar 1.282 individu yang tersebar di tiga subhabitat utama: Kelai, Telen, dan Wehea.
Arif mengungkapkan, kepadatan populasi orangutan menunjukkan tren relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Dari baseline 2019 dengan estimasi densitas sekitar 0,5 individu per kilometer persegi, angka tersebut sempat meningkat pada 2023 sebelum mengalami sedikit penyesuaian pada 2025.
“Secara umum tidak terlihat tren penurunan yang signifikan. Dinamika populasi satwa liar memang wajar terjadi karena ini estimasi berdasarkan tanda kehadiran, bukan hitung langsung,” jelasnya.
Berbeda dengan orangutan, populasi owa dinilai lebih sensitif terhadap gangguan habitat, terutama di area yang berbatasan dengan Areal Penggunaan Lain (APL) seperti perkebunan sawit.
“Semakin dekat dengan kawasan terganggu, densitas owa cenderung menurun. Ini menunjukkan ketergantungan owa terhadap hutan yang masih utuh lebih tinggi dibandingkan orangutan,” ujarnya.
Bentang Alam Wehea-Kelay sendiri tidak sepenuhnya berstatus kawasan konservasi.
Dari total luas 532.143 hektare, sekitar 19 persen merupakan hutan lindung, sementara sisanya mencakup konsesi kehutanan, perkebunan, dan lahan kelola masyarakat.
Dari sisi tutupan hutan, dalam kurun sekitar 20 tahun terakhir, penurunan canopy cover di kawasan ini tercatat kurang dari 10 persen.
Jika dirata-ratakan, tingkat kehilangan tutupan hutan sekitar 0,4 persen per tahun.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata kehilangan tutupan hutan di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 1,2 persen per tahun dalam periode yang sama.
“Artinya, laju kehilangan hutan di Wehea–Kelay relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi,” kata Arif.
Ia juga menyebut adanya area regrowth atau pertumbuhan kembali vegetasi yang mencapai sekitar 1 persen dari total kawasan, menunjukkan proses pemulihan alami di beberapa bagian bentang alam.
Arif menegaskan, hasil pemantauan ini menjadi indikator bahwa praktik pengelolaan hutan berbasis bentang alam yang melibatkan berbagai pihak masih mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas usaha kehutanan dan perlindungan biodiversitas.

