SAMARINDA: Pengelolaan hutan di Bentang Alam Wehea–Kelay terus diarahkan pada pendekatan yang menyelaraskan kepentingan bisnis dan konservasi.
Model ini dinilai efektif menjaga habitat orangutan sekaligus memastikan operasional perusahaan tetap berjalan berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Herlina Hartanto, menegaskan sejak awal intervensi di kawasan tersebut, fokus utama adalah membangun koridor satwa, khususnya orangutan, yang pergerakannya tidak mengenal batas konsesi perusahaan.
“Orangutan itu berjalan bebas, tidak tahu batas konsesi. Kalau setiap perusahaan bekerja sendiri-sendiri tanpa koordinasi, mereka bisa terperangkap di kantong-kantong hutan kecil,” ujarnya, Rabu, 11 Februari 2026.
Pendekatan koridor dilakukan untuk menyambungkan fragmen-fragmen hutan yang terpisah agar satwa memiliki jalur pergerakan alami dalam mencari makan dan berkembang biak.
Tanpa konektivitas tersebut, orangutan berisiko keluar ke area perkebunan sawit ketika sumber pakan di hutan kecil habis, yang kemudian dapat memicu konflik dengan manusia.
Herlina menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir perspektif pengelolaan di Wehea–Kelay mengalami pergeseran.
Jika sebelumnya lebih berfokus pada perlindungan orangutan dan kesejahteraan masyarakat, kini pendekatan diperluas untuk memastikan keberlanjutan bisnis pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) hutan alam.
“Kami melihat jika PBPH hutan alam berhenti beroperasi atau dorman, justru itu berbahaya. Kawasan menjadi rentan terhadap perambahan dan pembalakan liar,” katanya.
Menurutnya, perusahaan hutan alam yang beroperasi dengan praktik terbaik, melalui penebangan selektif dan pengelolaan berkelanjutan, justru berperan penting dalam menjaga ekosistem tetap utuh.
Sistem tebang pilih yang berpindah lokasi setiap tahun dinilai masih menyediakan habitat yang luas bagi orangutan.
“Kalau dikelola dengan benar, orangutan bisa hidup berdampingan dengan perusahaan. Bahkan dalam empat tahun terakhir, di dua PBPH hutan alam di Wehea–Kelay, kami mencatat adanya kenaikan populasi,” ungkapnya.
Selain pembangunan koridor, perlindungan kawasan juga diperkuat melalui pelibatan masyarakat.
Kelompok penjaga hutan atau ranger lokal yang sebelumnya berfokus di kawasan hutan lindung Wehea seluas sekitar 30.000 hektare kini didorong memperluas peran.
Ranger yang berjumlah 10 hingga 20 orang tersebut dilatih untuk membimbing pemuda desa di sekitar bentang alam agar terlibat dalam patroli hutan dan pemantauan keanekaragaman hayati.
“Mereka sudah terlatih menangani konflik satwa, termasuk orangutan. Sekarang kami ingin ilmu itu ditularkan ke lebih banyak pemuda desa,” ujarnya.
Terkait isu pertambangan, Herlina mengakui pihaknya belum memiliki data spesifik mengenai dampaknya terhadap populasi orangutan di wilayah tersebut.
Namun, ia menegaskan fragmentasi hutan akibat aktivitas yang tidak terkontrol tetap menjadi ancaman utama.
“Yang paling berisiko itu hutan kecil yang terisolasi. Kalau tidak tersambung dengan kawasan lain, orangutan bisa terperangkap,” jelasnya.
Bentang Alam Wehea–Kelay dikenal sebagai salah satu habitat penting orangutan di Kalimantan Timur.
Berdasarkan identifikasi terbaru, populasi orangutan di kawasan ini diperkirakan mencapai sekitar 1.282 individu yang tersebar di tiga subhabitat utama, yakni sisi Kelai, Telen, dan Wehea.
Pendekatan berbasis lanskap dinilai lebih efektif dibandingkan pengelolaan per konsesi karena mempertimbangkan konektivitas ekosistem secara menyeluruh.
Herlina menekankan, kunci keberhasilan perlindungan hutan bukan hanya pada aspek konservasi, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi para pengelolanya.

