MADURA: Jembatan Suramadu telah menjadi ikon kebanggaan Jawa Timur sekaligus simbol konektivitas antara Pulau Jawa dan Madura.
Berdiri megah di atas Selat Madura, jembatan ini bukan hanya infrastruktur penghubung, tetapi juga hasil dari perjalanan panjang gagasan yang dimulai sejak puluhan tahun silam.
Ide pembangunan jembatan penghubung Surabaya-Madura pertama kali dicetuskan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, Mohammad Noer, pada 1976.
Ia menggagas lintasan darat Bali-Madura-Surabaya yang dikenal dengan konsep Tri Nusa Bima Sakti.
Gagasan tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah pusat.
Pada 1986, B. J. Habibie turut mendorong kajian pembangunan jembatan saat menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.
Studi kelayakan proyek di Selat Madura dilakukan pada 1990 dan menyimpulkan bahwa pengembangan Pulau Madura menjadi kunci perluasan kawasan Surabaya.
Desain awal proyek mulai dikerjakan pada 1992 oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Namun, krisis ekonomi 1997 membuat rencana pembangunan tertunda.
Dimulai Era Megawati, Diresmikan SBY
Momentum pembangunan kembali menguat pada awal 2000-an.
Pada 20 Oktober 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2003 tentang pembangunan Jembatan Surabaya-Madura.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan pada Agustus 2003.
Pembangunan jembatan berlangsung selama enam tahun dan rampung pada 10 Juni 2009.
Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Meski sempat mengalami keterlambatan akibat kendala anggaran, proyek ini akhirnya berdiri sebagai salah satu infrastruktur terbesar di Indonesia.
Spesifikasi dan Biaya
Jembatan ini membentang sepanjang 5.438 meter dengan lebar 30 meter, menjadikannya jembatan terpanjang di Indonesia.
Struktur utamanya menggunakan model cable stayed sepanjang 818 meter, dengan dua menara setinggi sekitar 140 meter.
Dalam proses pembangunannya, proyek ini melibatkan sekitar 3.500 pekerja dan menggunakan puluhan ribu ton baja.
Dana yang digelontorkan mencapai sekitar Rp4,5 triliun yang bersumber dari APBN.
Tiang-tiang jembatan ditanam hingga kedalaman sekitar 40 meter dan dirancang tahan terhadap gempa serta korosi air laut.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Sebelum Suramadu berdiri, perjalanan Surabaya-Madura ditempuh melalui jalur laut dengan waktu 30 hingga 60 menit.
Kini, perjalanan darat dapat ditempuh kurang dari 10 menit.
Kehadiran jembatan ini membuka akses ekonomi, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan wilayah Madura.
Sejak akhir 2018, Presiden Joko Widodo menetapkan Jembatan Suramadu sebagai jembatan non-tol sehingga dapat dilintasi secara gratis oleh semua kendaraan.
Lebih dari satu dekade setelah diresmikan, Jembatan Suramadu tetap berdiri kokoh sebagai simbol kemajuan infrastruktur nasional sekaligus penghubung kehidupan masyarakat Jawa dan Madura.

