SAMARINDA: Kondisi Terminal Samarinda Seberang yang melayani rute Antarkota Dalam Provinsi (AKDP) hingga kini masih menghadapi tantangan besar terkait rendahnya tingkat okupansi penumpang.
Sejak dialihkan pengelolaannya dari Pemerintah Kota ke Pemerintah Provinsi pada tahun 2016, terminal ini belum menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan.

Koordinator Terminal Sungai Kunjang dari Dinas Perhubungan Kalimantan Timur (Dishub Kaltim), Eko Novianto mengaku telah bertugas sejak tahun 2003.
Ia mengungkapkan bahwa keramaian di terminal ini masih bersifat musiman.
Meski telah aktif secara penuh, lonjakan penumpang biasanya hanya terjadi pada momen tertentu seperti Desember atau menjelang hari raya, itu pun angkanya tidak terlalu mencolok.
Salah satu persoalan utama yang dihadapi adalah kebiasaan calon penumpang yang lebih memilih naik dari luar terminal, seperti di kawasan APT Pranoto. Hal ini memicu keterbatasan pengawasan karena otoritas petugas hanya mencakup area dalam terminal.
“Kami hanya bisa mengawasi di dalam, sedangkan penertiban di luar itu tugas instansi lain. Dulu pernah ada penertiban melalui LLAJ (Lalu Lintas Angkutan Jalan), tapi setelah itu kondisinya kembali lagi (kumat),” ujarnya, Senin, 16 Februari 2026.
Enggannya penumpang masuk ke terminal disebabkan oleh beberapa faktor logistik, mulai dari jarak yang jauh dari pemukiman hingga ketiadaan angkutan umum dari arah Samarinda Seberang menuju terminal.
Kondisi ini memaksa penumpang menggunakan transportasi online yang menambah biaya perjalanan.
Untuk menjaga ritme operasional, pihak terminal menerapkan skema keberangkatan yang ketat. Diketahui, rata-rata bus berangkat setiap 11 menit dengan volume 25 hingga 30 armada per hari. Namun karena skema tersebut, para Sopir pun sering mengalami dilema.
“Bus baru berangkat jika minimal ada 14 penumpang. Jika kurang, penumpang akan dioper ke bus berikutnya. Kecuali untuk sopir yang berdomisili di Balikpapan, mereka tetap berangkat sesuai jadwal meski penumpang sepi agar bisa pulang,” jelasnya.
Dari sisi fasilitas, armada yang tersedia mayoritas merupakan bus kecil dan berusia tua. Hal ini kontras dengan kondisi terminal di Pulau Jawa yang sudah modern layaknya mal dan beroperasi 24 jam.
Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas melalui prosedur ramp check (pemeriksaan kelaikan kendaraan) rutin setiap menjelang Nataru dan Lebaran.
Terkait biaya perjalanan, tarif saat ini masih stabil di angka Rp55.000 untuk bus fasilitas AC dan Rp45.000 untuk non-AC.
Perbedaan keduanya dapat dikenali masyarakat dari model kaca bus, di mana kaca yang paten (buntu) menandakan penggunaan AC, sementara kaca yang bisa dibuka adalah non-AC.
Mengenai infrastruktur, Terminal Samarinda Seberang sebenarnya sempat masuk dalam rencana revitalisasi pada tahun 2023-2024. Namun, rencana tersebut hingga kini belum terealisasi.
“Dananya sebenarnya sudah ada, tapi karena adanya efisiensi anggaran dan pergantian kepemimpinan daerah, kemungkinan dialihkan ke prioritas lain. Meski begitu, pelayanan tetap kami jalankan untuk rute-rute yang tersedia seperti ke Kota Bangun dan Samboja,” tutupnya.

