SAMARINDA: Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda (Disdamkarmat) menunjukkan gangguan kelistrikan masih menjadi penyebab utama kebakaran di Kota Tepian.
Lebih dari 60 persen insiden kebakaran dipicu oleh hubungan arus pendek atau korsleting listrik.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Disdamkar Samarinda, Akhmad Suprianto, menjelaskan penggunaan instalasi listrik yang tidak sesuai standar, kabel tua, serta kebiasaan memakai stopkontak bertumpuk menjadi faktor dominan.
“Lebih dari 60 persen kejadian kebakaran disebabkan gangguan kelistrikan. Stopkontak bertumpuk sangat berisiko karena dapat menimbulkan panas berlebih dan percikan api,” ujarnya.
Selain faktor listrik, kelalaian penggunaan kompor gas juga masih menyumbang angka signifikan.
Regulator dan selang elpiji yang tidak diperiksa secara rutin berpotensi mengalami kebocoran dan memicu kebakaran.
Berdasarkan catatan Disdamkarmat, jumlah kebakaran selama Ramadan dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren penurunan.
Pada Ramadan 2024 tercatat 23 kejadian, sedangkan Ramadan 2025 menurun menjadi 18 kejadian.
Namun demikian, peningkatan aktivitas rumah tangga selama bulan puasa tetap menjadi faktor risiko tersendiri.
Intensitas penggunaan kompor, pemanas air, serta peralatan elektronik meningkat saat sahur dan menjelang berbuka.
Senior Relawan Kebakaran Samarinda, Teguh Setia Wardana, menyoroti kondisi instalasi listrik rumah warga yang telah berusia lebih dari 15 tahun sebagai titik rawan tambahan.
“Kabel lama sangat rentan mengalami kerusakan. Saat beban listrik meningkat, risiko korsleting juga ikut naik,” ujarnya.
Menurutnya, faktor kelelahan saat sahur maupun kesibukan menjelang berbuka kerap memicu kelalaian, seperti lupa mematikan kompor atau membiarkan peralatan listrik tetap menyala saat pergi tarawih.
Ia menegaskan langkah preventif seperti pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penggantian kabel lama, serta kepemilikan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan investasi keamanan yang jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat kebakaran.
“Investasi kecil untuk keamanan jauh lebih bijak dibanding menanggung kerugian besar akibat kebakaran,” pungkasnya.

