SAMARINDA: Masjid Shirathal Mustaqiem atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Tua menjadi salah satu bangunan bersejarah di Samarinda yang berdiri sejak 1881.
Hingga kini, masjid tersebut tetap mempertahankan nilai sejarah, fungsi sosial, serta perannya sebagai pusat kegiatan keagamaan dan wisata religi.

Saat ditemui di dalam masjid, Pengurus Masjid, Ishak Ismail, menceritakan bahwa masjid tua ini didirikan oleh ulama terkemuka dari Kesultanan Kutai Kartanegara, Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf yang menyandang gelar Pangeran Bendahara.
Menurutnya, sebelum masjid dibangun, kawasan Samarinda Seberang dikenal sebagai lokasi aktivitas perjudian dadu dan sabung ayam yang berlangsung siang dan malam.
Dalam proses pendiriannya, Habib Abdurrahman didampingi tiga tokoh masyarakat yakni Kapitan Jaya, Laloncong, dan Lausona.
Peran ketiganya dinilai penting untuk meredam potensi penolakan dari para jagoan setempat di tengah kondisi pemahaman agama masyarakat yang belum kuat.
Nama keempat tokoh tersebut kemudian diabadikan melalui empat tiang utama (soko guru) masjid yang masih berdiri hingga sekarang.
“Masjid ini didirikan pada 1881 oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf bersama Kapitan Jaya, Laloncong, dan Lausona, dan nama mereka diabadikan melalui empat tiang utama yang masih ada hingga kini,” ungkap Ishak Ismail, Rabu, 18 Februari 2026.
Keempat tiang besar tersebut memiliki diameter sekitar 60 sentimeter dengan tinggi lebih dari 10 meter, sekitar 8 meter dari lantai hingga ujung atas.
Penempatannya mencerminkan sumbangan masing-masing tokoh, yakni sisi selatan oleh Pangeran Bendahara, bagian belakang oleh Kapitan Jaya, posisi lainnya oleh Laloncong, dan sisi timur oleh Lausona.
Ishak menceritakan, pendirian tiang sempat mengalami kesulitan karena ukurannya yang masif.
Dalam kisah yang beredar, saat musyawarah dilakukan, muncul sosok misterius berpakaian putih yang disebut “nenek” dalam bahasa Bugis yang menawarkan bantuan dengan syarat tidak boleh diintip.
Pada subuh berikutnya, keempat tiang tersebut dikisahkan telah berdiri tegak.
“Keempat tiang itu berdiameter sekitar 60 sentimeter dengan tinggi lebih dari 10 meter dan dipercaya berdiri secara ajaib setelah proses yang tidak boleh disaksikan,” jelasnya.

Pembangunan fisik masjid berlangsung selama sepuluh tahun dan rampung pada 1891, dengan material kayu diangkut melalui sungai karena keterbatasan sarana transportasi.
Masjid ini kemudian diresmikan oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada 1894.
Sepuluh tahun setelah rampung, menara masjid dibangun pada 1901 oleh mualaf asal Belanda, Henry Dassen yang kemudian dikenal dengan nama Islam Abraham Dassen.
“Pembangunan memakan waktu sepuluh tahun karena material kayu dibawa melalui sungai, dan menara baru dibangun pada 1901 oleh mualaf asal Belanda,” katanya.
Masjid ini turut mencatat prestasi nasional dengan meraih juara kedua Festival Masjid Bersejarah di Jakarta pada 2003 setelah Masjid Banten.
Sejumlah tokoh nasional juga pernah beribadah dan berkunjung ke masjid ini, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, Kapolri, Menteri Agama, hingga Duta Besar Brunei Darussalam.
Masjid Shirathal Mustaqiem juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun Kota Samarinda melalui ziarah ke makam pendiri kota yang dilanjutkan salat Jumat bersama Wali Kota dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Renovasi besar dilakukan pada 2001 karena tingkat kerusakan mencapai 75 persen.
Meski dinding dan atap diganti, seluruh tiang utama tetap dipertahankan dalam kondisi asli.
Bangunan masjid beserta koleksinya, seperti peti peninggalan zaman Belanda dan Al-Qur’an tulis tangan berusia ratusan tahun, tetap dijaga dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Wali Kota.
Dari sisi pendanaan, Ishak menyebut pengelolaan masjid mengandalkan swadaya masyarakat, wakaf tanah, serta dana CSR.
Pengurus tidak mengajukan proposal bantuan formal, namun tetap menerima sumbangan sukarela.
“Walau renovasi dilakukan, tiang utama tetap asli, dan pendanaan masjid mengandalkan swadaya masyarakat, wakaf, serta CSR tanpa mengajukan proposal bantuan formal, namun kami tetap menerima sumbangan atau bantuan yang diberikan,” jelasnya.
Selain sebagai tempat ibadah dan destinasi wisata religi, masjid tua ini terbuka bagi pelajar dari tingkat TK hingga S2 serta tamu lintas agama yang ingin mempelajari sejarah lokal.
Kawasan Samarinda Seberang sendiri telah ditetapkan sebagai kawasan budaya.
Pada awal 2026, Kota Samarinda meraih penghargaan pelestarian budaya sarung Samarinda, dengan proses dokumentasi dilakukan di masjid ini.
Ishak berharap masyarakat terus menjaga ibadah sekaligus mempelajari sejarah lokal agar tidak hilang dalam arus sejarah nasional.
“Masjid ini terbuka bagi siapa saja untuk belajar sejarah lokal, dan kami berharap masyarakat terus menjaga ibadah serta tidak melupakan sejarah daerahnya,” pungkasnya.

