SAMARINDA: Founder Samarinda Design Hub sekaligus Kurator Graphic Memoir Exhibition, Ramadhan S. Pernyata, kembali menunjukkan konsistensinya dalam menjaga denyut nadi kesenian di Kota Tepian melalui Pameran Graphic Memoir Exhibition Memoara.
Meski berhasil membawa karya anak muda Samarinda hingga ke kancah internasional, ia menyayangkan minimnya dukungan riil dari pemerintah daerah.

Ramadhan menyebut, pameran bertajuk “Memoara” yang digelar di Jalan Wahid Hasyim II, Sempaja ini merupakan pameran ke-7 yang diselenggarakan secara mandiri sejak 2018.
Ia menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang kumpul seniman, melainkan upaya mendokumentasikan memori kolektif warga Samarinda melalui kekuatan visual.
“Ini sebenarnya sudah pameran ke-7. Per pameran itu ending-nya pasti ada buku atau katalog sebagai bukti fisik. Kalau ditanya mana buktinya pameran? Tadah! Ini buktinya,” tegas Ramadhan saat memberikan keterangan di galeri, Minggu, 12 April 2026.
Ia mengungkapkan, katalog karya ilustrator lokal sejak 2018 hingga 2023 bahkan telah menjadi bagian dari koleksi dua institusi besar dunia, yakni Library of Congress di Washington DC dan Leiden University.
“Katalog-katalog sebelumya sudah saya kirim ke Washington dan Belanda. Ketik saja di Google, sudah keluar nama Samarinda Design Hub di sana. Ini bukti bahwa karya kita dihargai dunia, meski di rumah sendiri tantangannya masih soal dukungan riil,” tambahnya.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Ramadhan melayangkan kritik terhadap kepedulian pemerintah daerah terhadap ekosistem kreatif yang telah ia bangun.

Ia menilai pemerintah masih cenderung fokus pada pembangunan fasilitas fisik seperti creative hub baru, tanpa melihat inisiatif komunitas yang sudah berjalan konsisten.
“Harusnya bisa dijawab sendiri kalau ditanya soal dukungan pemerintah. Selama 7 hingga 8 tahun ini, pameran ilustrasi terbesar di Kaltim ini murni dana sendiri. Sekarang banyak muncul hub-hub kreatif, tapi izin, saya sudah duluan. Orangnya masih di Sempaja, tapi gambarnya sudah sampai ke Leiden,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ramadhan menjelaskan tema “Memoara” tahun ini melibatkan 20 partisipan yang merekam berbagai sudut pandang tentang Samarinda, mulai dari narasi kuliner seperti nasi kuning dan mandai hingga kritik ekologi terkait Sungai Karang Mumus dan hilangnya landmark kota seperti Lapangan Pemuda.
Ia menyebut pameran ini menjadi ruang bagi para ilustrator yang selama ini kurang mendapat perhatian dibandingkan seni pertunjukan di Kalimantan Timur.
Dalam proses kurasi, Ramadhan mengaku menerapkan seleksi ketat agar setiap karya tetap selaras dengan identitas kota.
“Banyak yang submit, tapi kalau gambarnya jauh dari tema Samarinda, tidak bisa masuk. Tugas saya menyeleksi itu agar semua tetap bertemakan Samarinda,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Ramadhan berharap pemerintah daerah dapat melihat bukti nyata yang telah dihasilkan komunitas kreatif, bukan sekadar wacana.
“Harapan saya sederhana, semoga saya tetap sehat untuk bikin yang lebih besar lagi. Untuk pemerintah, bergidik saya kalau ditanya itu terus. Selama 7 tahun pertanyaannya sama, dan sampai sekarang masih dana sendiri. Harusnya mereka sudah bisa berpikir,” terangnya.
Pameran yang menampilkan 20 karya ilustrator ini akan berlangsung hingga 19 April 2026, pukul 15.00-21.00 WITA di galeri Samarinda Design Hub, Sempaja.
Harga tiket masuk dipatok sebesar Rp25 ribu.
Ramadhan berharap pameran ini dapat menjadi pengingat bagi warga dan pemangku kebijakan tentang pentingnya menjaga identitas dan sejarah kota melalui karya desain dan ilustrasi.

