SAMARINDA: Menjelang Iduladha 2026, harga sapi kurban di Samarinda terpantau relatif stabil meski terjadi kenaikan sejumlah biaya operasional, termasuk bahan bakar minyak (BBM).
Para pedagang hewan kurban menyebut kenaikan ongkos distribusi belum memberikan dampak signifikan terhadap harga jual sapi tahun ini, sehingga masyarakat masih dapat membeli hewan kurban dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya.
Salah satu pedagang sapi kurban di kawasan Jalan Rapak Indah, Kelurahan Loa Bakung, Rama Setia Nugraha atau Danu, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), mengatakan harga sapi tahun ini masih cukup terkendali.
“Kebetulan untuk tahun ini kuota sapi yang kami dapat memang tidak terlalu banyak. Mungkin ada pengaruh biaya seperti BBM yang naik, tapi untuk harga sapi sendiri masih relatif sama dengan tahun lalu. Masih bisa dikendalikan,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Rabu, 29 April 2026.
Menurut Danu, harga sapi kurban di lapaknya berkisar mulai Rp15 juta hingga Rp35 juta, tergantung ukuran dan bobot hewan.
“Kalau harga sekarang kisarannya dari Rp15 juta sampai yang paling besar sekitar Rp35 juta,” jelasnya.
Untuk sapi dengan harga tertinggi, bobot hewan bisa mencapai sekitar 400 hingga 450 kilogram.
Sapi berukuran besar umumnya diminati oleh kelompok masyarakat maupun perusahaan yang melakukan pembelian secara kolektif.
“Yang Rp35 juta itu bobotnya sekitar 400 sampai 450 kilogram,” katanya.
Selain sapi, pedagang juga menyediakan kambing kurban sebagai alternatif dengan harga lebih terjangkau, yakni mulai Rp3,5 juta hingga Rp10 juta sesuai ukuran dan kualitas.
Danu mengungkapkan sebagian pelanggan telah melakukan pemesanan lebih awal dengan memberikan uang muka guna memastikan pilihan sapi yang diinginkan tidak dibeli pihak lain.
“Ada juga pelanggan yang datang lebih awal, lihat sapi yang cocok lalu langsung kasih DP supaya tidak diambil orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola pembelian hewan kurban setiap tahun cukup beragam.
Selain pembeli individu dan kelompok masyarakat, perusahaan-perusahaan juga menjadi pelanggan rutin menjelang Iduladha.
“Kita juga melayani pembelian dari perusahaan-perusahaan. Ada beberapa yang memang sudah langganan dari dulu,” tuturnya.
Meski demikian, puncak pembelian hewan kurban cenderung sulit diprediksi karena perilaku konsumen berbeda-beda, mulai dari pembelian jauh hari hingga mendekati hari raya.
“Kalau puncak pembelian sebenarnya tidak tentu juga. Ada yang beli dari jauh hari, ada juga yang mendekati hari raya baru datang,” katanya.
Sebagian besar sapi yang dijual didatangkan dari Nusa Tenggara Timur, salah satu wilayah sentra peternakan sapi nasional.
Meski distribusi dilakukan melalui jalur laut dengan biaya operasional yang meningkat, para pedagang memastikan stok tahun ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Samarinda.
“Yang jelas kami tetap berusaha menyediakan sapi dengan kualitas baik dan harga yang masih bisa dijangkau masyarakat,” pungkasnya.

