SAMARINDA: Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Kalimantan Timur (Kaltim) di Gelora Kadrie Oening, Sempaja, Jumat, 9 Januari 2026, berlangsung semarak dengan penampilan tarian kolosal yang melibatkan ratusan pelajar dari berbagai daerah.
Sebanyak 560 siswa-siswi dari berbagai sekolah menampilkan tarian massal dengan balutan busana adat Kaltim.
Koreografi yang disuguhkan memadukan ragam gerak tari tradisional dari berbagai etnis, sebagai representasi kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat Bumi Etam.
Yang menarik Tari Hudoq, tarian khas masyarakat Dayak Bahau dan Modang, turut ditampilkan sebagai bagian dari tarian kolosal.
Kehadiran Hudoq dengan topeng-topeng ikoniknya menjadi simbol penghormatan terhadap alam, kesuburan, serta hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud menilai tarian kolosal yang diperkaya dengan unsur Hudoq tersebut tidak sekadar hiburan, melainkan pesan kebudayaan yang sarat makna.
“Tarian kolosal ini, termasuk kehadiran Tari Hudoq, menunjukkan bahwa generasi muda Kalimantan Timur mampu menjaga dan merawat warisan budaya leluhur. Inilah identitas kita, sekaligus modal sosial menuju Kalimantan Timur Generasi Emas,” ujar Rudy Mas’ud.
Menurutnya, pelibatan pelajar dalam penampilan seni budaya daerah merupakan langkah strategis untuk menanamkan nilai kebangsaan, kebudayaan, dan kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini.
“Pembangunan Kaltim ke depan tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi dan sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang berkarakter, berbudaya, dan memiliki kesadaran lingkungan,” lanjutnya.
Tarian kolosal yang memadukan unsur tradisi dan generasi muda ini menjadi salah satu rangkaian utama upacara HUT ke-69 Kaltim yang dihadiri unsur Forkopimda, kepala daerah kabupaten/kota, tokoh masyarakat, serta ratusan peserta upacara dari unsur ASN, TNI/Polri, pelajar, mahasiswa, dan Satpol PP.
Melalui penampilan Tari Hudoq dalam ruang publik tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltim menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi, sekaligus menempatkan generasi muda sebagai pewaris nilai-nilai luhur daerah.

