SAMARINDA: Wali Kota Samarinda Andi Harun melepas 1.024 calon jemaah haji Kota Samarinda tahun 2026 di GOR Segiri Samarinda, Minggu, 5 April 2026.
Ia menekankan pentingnya menjaga perilaku selama menjalankan ibadah haji agar meraih predikat haji mabrur.
Di hadapan para calon jemaah, Andi Harun mengingatkan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menuntut pengendalian diri, kesabaran, dan keikhlasan.
Ia mengutip Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 197 yang menegaskan tiga larangan utama dalam ibadah haji, yakni tidak boleh berkata kotor (rafats), tidak boleh berbuat maksiat (fusuq), dan tidak boleh bertengkar (jidal).
“Jangan sampai sudah menunggu bertahun-tahun untuk berangkat haji, tetapi dalam perjalanan justru berkata-kata kotor, marah-marah, atau menyumpahi sesama jemaah,” ujarnya.
Menurutnya, pelanggaran terhadap larangan tersebut sering kali terjadi dalam hal-hal sederhana, seperti mengeluh, menyalahkan sesama jemaah karena keterlambatan, hingga emosi saat menghadapi kondisi di lapangan.
Ia menegaskan, menjaga lisan menjadi syarat utama dalam meraih haji mabrur. Sebab, ucapan yang tidak baik dapat mengurangi nilai ibadah yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun.
Selain itu, Andi juga mengingatkan jemaah untuk menghindari perbuatan maksiat selama berhaji, termasuk tindakan-tindakan yang tidak memiliki dasar dalam manasik.
“Kadang ada yang menulis di tempat tertentu, mengambil barang orang lain, atau melakukan hal-hal yang tidak dicontohkan. Itu termasuk maksiat,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi konflik antarjemaah, baik dalam perjalanan, di penginapan, maupun saat menjalankan rangkaian ibadah. Menurutnya, perbedaan kebiasaan dan kondisi fisik dapat memicu gesekan jika tidak disikapi dengan sabar.
“Jangan sampai hanya karena hal kecil, seperti kamar, AC, atau barang, kita bertengkar. Itu bisa mengurangi nilai ibadah,” ujarnya.
Orang nomor satu di Kota berjuluk Tepian itu juga mengingatkan tentang tantangan fisik yang akan dihadapi jemaah, terutama saat wukuf di Arafah yang diperkirakan berlangsung dalam suhu tinggi, bahkan bisa mencapai 50 derajat Celsius.
Ia meminta jemaah mempersiapkan diri dengan baik dan tetap fokus pada ibadah, seperti zikir dan doa, tanpa terganggu oleh kondisi cuaca atau hal-hal lain di sekitarnya.
“Wukuf itu inti haji. Jangan sampai justru sibuk dengan hal lain dan melupakan zikir serta doa,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga keselamatan dan kehormatan diri, terutama saat berada di area padat seperti tawaf dan di sekitar Hajar Aswad.
“Mencium Hajar Aswad itu sunah, tapi menjaga aurat dan keselamatan itu wajib. Jangan sampai mengejar yang sunah, tapi mengorbankan yang wajib,” tegasnya.
Andi juga mengingatkan jemaah agar tidak membawa barang berlebihan selama perjalanan haji. Menurutnya, aktivitas utama di Tanah Suci adalah ibadah, bukan berbelanja.
“Fokus kita di sana hanya masjid dan ibadah. Tidak perlu membawa banyak barang yang justru merepotkan,” ujarnya.
Ia turut mengingatkan aturan terkait larangan membawa air zamzam di dalam koper saat kembali ke tanah air, yang dapat berujung pada pembongkaran barang di bandara.
Andi Harun menegaskan bahwa bekal utama dalam ibadah haji adalah ketakwaan.
“Bekal terbaik itu adalah takwa. Jaga diri, jaga lisan, dan jaga hati. Insyaallah hajinya mabrur,” ujarnya.

