JAKARTA: Wali Kota Samarinda Andi Harun dijadwalkan mempresentasikan Sarung Samarinda dalam ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat yang digelar dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Presentasi akan berlangsung pada Jumat, 9 Januari 2026, di hadapan dewan juri PWI Pusat di Hall Dewan Pers Jakarta.
Samarinda menjadi salah satu dari 10 daerah yang masuk nominasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Dalam pengambilan nomor urut yang berlangsung saat silaturahmi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Kamis 8 Januari 2026, Wali Kota Samarinda mendapat urutan presentasi ke-7, namun kemudian bertukar jadwal dengan Bupati Temanggung, Jawa Tengah, sehingga Samarinda tampil pada urutan ke-3.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda Asli Nuryadin mengatakan bahwa dari sekian banyak kekayaan budaya Samarinda, Sarung Samarinda dipilih karena memiliki nilai sejarah, filosofi, serta telah dikenal hingga tingkat internasional.
“Sebetulnya banyak kebudayaan di Samarinda. Tapi yang paling dikenal dan sudah mendunia adalah Sarung Samarinda. Itu yang diangkat Pak Wali Kota,” ujar Nuryadin saat ditemui di sela rangkaian kegiatan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.
Menurutnya, pengangkatan Sarung Samarinda tidak hanya berbicara soal warisan budaya, tetapi juga keterkaitannya dengan penguatan ekonomi masyarakat dan UMKM.
Implementasi Sarung Samarinda, kata ia, telah diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan kota seperti motif median jalan, hingga pakaian anak-anak sekolah sudah mengimplementasikan motif Sarung Samarinda.
“Jadi ini bukan hanya simbol, tapi sudah hidup di masyarakat,” jelasnya.
Asli Nuryadin menambahkan, salah satu motif yang turut diperkenalkan adalah Belang Hatta, yakni Sarung Samarinda dengan kombinasi warna merah dan hitam, yang terinspirasi dari Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta.
“Belang Hatta itu warna merah dikombinasikan dengan hitam. Itu juga bagian dari narasi yang akan disampaikan,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menjadi momen pertama Samarinda masuk nominasi.
Meski seleksi terbuka untuk seluruh daerah di Indonesia, Samarinda berhasil menembus 10 besar.
“Ini pertama kalinya Samarinda masuk nominasi. Alhamdulillah bisa masuk 10 besar. Bahkan di penilaian awal, Samarinda sempat berada di urutan 2,” ujarnya.
Dalam presentasi besok, Wali Kota Samarinda akan memaparkan sejarah Sarung Samarinda, nilai etimologi, nilai kebatinan, serta bagaimana budaya tersebut dimanfaatkan dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat modern.
“Besok pak wali kota akan menjelaskan sejarahnya, nilai-nilai filosofisnya, sampai bagaimana Sarung Samarinda dimanfaatkan hari ini. Semua akan dipaparkan langsung,” kata Nuryadin.
Ia juga menyampaikan optimisme atas peluang Samarinda dalam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat tahun ini.
Optimisme tersebut didasarkan pada keseriusan Wali Kota Samarinda dalam mempersiapkan materi presentasi.
“Pak wali kota sangat serius. Slide presentasi beliau susun sendiri, bahkan sampai malam masih direvisi. Saya ikut rapat dua kali, dan setelah itu masih diperbaiki lagi. Itu menunjukkan keseriusan beliau,” ungkapnya.
Menurut Nuryadin, komitmen Pemerintah Kota Samarinda terhadap kebudayaan tidak berhenti pada tataran wacana.
Sejumlah warisan budaya Samarinda telah masuk dalam registrasi tingkat provinsi dan sedang didorong menuju pengakuan nasional.
“Di Samarinda sudah ada beberapa yang terdaftar, seperti Masjid Siratal Mustaqim, Bubur Peca, dan lainnya. Tapi di momen Anugerah Kebudayaan ini, fokusnya memang Sarung Samarinda,” jelasnya.
Ia menegaskan, dukungan Pemkot Samarinda terhadap kebudayaan selama ini berjalan kuat dan berkelanjutan, sehingga optimisme terhadap hasil presentasi semakin besar.
“Kami optimistis. Karena beliau juga serius mengikuti ini,” pungkasnya.

