JAKARTA: Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan bahwa upaya pelestarian Sarung Samarinda tidak berhenti pada kebanggaan simbolik, tetapi diarahkan agar benar-benar hidup, berkelanjutan, dan memberi manfaat ekonomi langsung bagi para penenun.
Hal itu disampaikan Andi Harun usai mempresentasikan Sarung Samarinda dalam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, Jumat, 9 Januari 2026.
“Sudah tiga tahun terakhir ini kita secara sabar dan konsisten membangun identitas Kota Samarinda, sekaligus membangun ruang ekonomi bagi masyarakat, khususnya para penenun,” ujar Andi Harun.
Ia menjelaskan, penguatan kebudayaan dilakukan melalui kebijakan daerah yang terukur dan berkelanjutan.
Hasilnya, menurut Andi Harun, terlihat dari meningkatnya afirmasi pembangunan berbasis kebudayaan dari tahun ke tahun.
Menurutnya, Sarung Samarinda bukan sekadar produk tekstil, melainkan city brand yang lahir dari proses akulturasi budaya dan memiliki kekuatan historis sekaligus nilai strategis bagi identitas masa depan kota.
“Sarung Samarinda punya kekuatan kesejarahan, membentuk identitas masa lalu kita, tapi juga menjadi pembentuk identitas masa depan Kota Samarinda,” katanya.
Untuk memastikan keberlanjutan, Pemerintah Kota Samarinda menjalankan sejumlah langkah konkret, mulai dari regenerasi penenun, penerapan motif Sarung Samarinda dalam tata kota, hingga penguatan pasar.
“Kita implementasikan corak Sarung Samarinda pada fasad bangunan, median jalan, trotoar, dan berbagai produk yang memperkuat citra Kota Samarinda. Itu kita lakukan terus dari tahun ke tahun,” jelasnya.
Di sisi ekonomi, Pemkot juga mendorong Sarung Samarinda masuk ke pasar elektronik dan e-commerce, agar menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
“Kita ingin Sarung Samarinda nyaman dipakai dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Dengan begitu, kegiatan menenun terus tumbuh dan memberi harapan ekonomi bagi para penenun dan masyarakat kota,” ujarnya.
Terkait masukan dari dewan juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Andi Harun menyebut terdapat dua catatan penting yang akan segera ditindaklanjuti.
“Pertama, soal penggunaan pewarna alam agar terus dijaga. Kedua, budaya bersarung yang disampaikan Pak Sujiwo Tejo agar digalakkan sebagai kebiasaan harian masyarakat Samarinda,” katanya.
Ia menilai masukan tersebut sejalan dengan kebijakan yang telah dijalankan pemerintah kota dan akan memperkuat komitmen pelestarian Sarung Samarinda.
“Dua masukan itu sangat berharga dan saling mendukung dengan apa yang sudah kami lakukan,” ujarnya.
Dalam presentasi tersebut, Andi Harun tampil mengenakan Baju Takwo, busana adat Kesultanan Kutai yang dahulu hanya digunakan bangsawan atau penari upacara adat.
Busana itu dipadukan dengan Sarung Samarinda Tajong bermotif Belang Hatta serta songkok khas Kutai.
Motif Belang Hatta memiliki nilai historis tersendiri.
Nama motif tersebut berasal dari kunjungan Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, ke kampung tenun Sarung Samarinda.
Ketertarikan Hatta pada motif tersebut kemudian mengabadikan namanya sebagai identitas motif.
Ia mengaku optimistis terhadap hasil Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 dan berharap Sarung Samarinda semakin kokoh sebagai identitas budaya sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.

