Samarinda – Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam (AHM) Jaya Mualimin menjelaskan, akan melakukan tambahan ruangan pelayanan sekaligus perawatan. Itu bertujuan mengantisipasi jika jumlah pasien membeludak.
Ia menyebutkan, total pasien sampai hari ini yang dirawat di RS tersebut sebanyak 135 pasien. Angka itu terbilang meningkat jika dibanding tahun sebelumnya sekitar 120 pasien dari total kapasitas 190 tempat tidur.
“Bisa dibilang semuanya sudah pulih karena dari 135 itu kita pulangkan setiap bulan ada sekitar 110 lebih, kemudian masuk orang lain lagi,” paparnya di Hotel Mercure Samarinda, Rabu (13/10/2021).
Diceritakannya, kurun waktu lima tahun ke belakang, RSJD AHM sempat kewalahan karena pasien yang melebihi kapasitas. Kala itu kemampuan tampung hanya 190, sementara pasien hampir 250 orang.
Maka dari itu, ia menyebut pihaknya telah bekerja sama dengan sejumlah instansi pemerintah dan juga beberapa yayasan.
“Alhamdulilah mereka bisa melalukan upaya-upaya agar di rumah sakit tetap kita bisa melayani,” ucapnya.
Selain itu, ia menyebut sudah melakukan pembicaraan dengan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur untuk membuka rumah layanan bagi pasien yang terpaksa harus dilakukan perawatan.
“Tetap kita akan lakukan upaya semacam pengobatan walaupun di luar rumah sakit. Karena memang pengobatan itu kan dalam tanda kutip bisa seumur hidup,” terangnya.
Lebih jauh diutarakan Jaya Mualimin, kesembuhan penyakit jiwa tidak sama dengan kesembuhan penyakit fisik. Saat seseorang mengalami sakit fisik umumnya orang tersebut bisa pulih dan produktif kembali di masyarakat.
Namun berbeda dengan penyakit jiwa yang sifatnya menahun dan selalu kambuh.
“Maka ketika kambuh ya harus disiapkan tempat tidur dan sarana yang baik,” ujarnya.
Jaya membeberkan beberapa pasien di RSJD AHM memiliki rentan waktu kambuh berbeda-beda, mulai dari sebulan hingga enam bulan sekali yang disebabkan oleh faktor berbeda pula.
“Terutama memang karena penyakitnya kambuhan. Walaupun enggak muncul nanti akan muncul sendiri,” sebutnya.
Namun ia menegaskan, faktor paling berpengaruh ialah stigma masyarakat yang masih menganggap bahwa penyakit jiwa merupakan penyakit kutukan dan sebagainya.
“Padahal kesembuhan yang dimaksud adalah pulih dan bisa kembali ke masyarakat,” papar Direktur RSJD AHM tersebut.

