JAKARTA: Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S. Depari menegaskan bahwa Anugerah Kebudayaan PWI Pusat bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk pengakuan moral dan historis atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Atal saat mewakili Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dalam rangkaian silaturahmi dan presentasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
“Saya kira pesan dari Ketua Umum sangat jelas, anugerah ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan moral dan sejarah atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa, sekaligus penghargaan atas kontribusi insan-insan budaya yang setia merawat identitas Indonesia di tengah perubahan zaman yang sangat cepat,” ujar Atal.
Ia menegaskan bahwa Indonesia kerap dipandang sebagai kekuatan ekonomi, geopolitik, dan demokrasi.
Namun, menurutnya, kekuatan paling mendasar bangsa ini justru terletak pada kebudayaannya.
“Sesungguhnya kekuatan paling mendasar Indonesia adalah kebudayaannya. Indonesia adalah super power budaya. UNESCO telah mengakui itu,” katanya.
Atal menilai, dengan ribuan bahasa, ragam tradisi, seni, nilai dan kearifan lokal, pembangunan yang mengabaikan kebudayaan akan kehilangan arah.
“Tanpa kebudayaan, pembangunan kehilangan arah. Tanpa nilai, kemajuan bisa menjadi hampa. Dan tanpa identitas, bangsa mudah terombang-ambing oleh arus globalisasi,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Atal menekankan peran strategis pers sebagai penjaga ingatan kolektif bangsa, ruang dialog kebudayaan, serta jembatan antara tradisi dan modernitas.
“Pers bukan hanya penyampai informasi, tetapi penjaga ingatan kolektif. Pers yang sehat adalah pers yang memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh, dikenali, dan dihargai,” ujarnya.
Ia menyebut Anugerah Kebudayaan PWI Pusat sebagai penegasan bahwa pers dan kebudayaan merupakan dua pilar yang saling menguatkan.
“Pers memberi suara bagi kebudayaan, dan kebudayaan memberi nilai bagi pers,” katanya.
Kepada para bupati dan wali kota penerima nominasi Anugerah Kebudayaan, Atal menyampaikan apresiasi atas komitmen mereka menjaga dan merawat kebudayaan daerah.
“Penghargaan ini adalah pengakuan atas dedikasi, konsistensi, dan kesetiaan saudara-saudara dalam menjaga kebudayaan bangsa,” ujarnya.
Ia berharap anugerah tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan personal, tetapi juga pemantik semangat generasi muda untuk terus mencintai dan mengembangkan kebudayaan Indonesia.
“Semoga ini menjadi api semangat bagi generasi muda untuk terus merawat kebudayaan Indonesia di mana pun berada,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto menekankan bahwa keberlangsungan kebudayaan di daerah sangat ditentukan oleh kepemimpinan kepala daerah.
“Para pimpinan daerah sejatinya adalah penanggung jawab hidup atau matinya kebudayaan di wilayah masing-masing,” ujar Totok.
Ia berbagi pengalaman pribadinya sebagai wartawan budaya pada awal karier jurnalistiknya, yang menurutnya membuat wartawan memiliki kedekatan alami dengan kebudayaan.
“Wartawan itu tugasnya mencatat. Mencatat sejarah, kebiasaan, tradisi, yang kemudian menjadi kebudayaan,” katanya.
Totok mengingatkan bahwa banyak budaya lokal kini mulai menghilang, tergeser oleh budaya asing, baik dalam makanan, gaya hidup, maupun cara berinteraksi.
“Kalau satu daerah isinya hanya budaya asing, maka kebudayaan kita bisa tinggal kenangan,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap Anugerah Kebudayaan PWI Pusat menjadi pengingat bahwa salah satu tolok ukur kepemimpinan daerah adalah keberhasilan menyelamatkan dan memajukan kebudayaan lokal.
“Pemimpin daerah harus mencatatkan dirinya sebagai penyelamat kebudayaan. Kalau tidak, itu berbahaya bagi masa depan bangsa,” tegas Totok.
Ia menutup sambutannya dengan harapan agar pers terus menjadi penjaga, pejuang, dan pengawal kebudayaan Indonesia.
“Pers harus menjadi penyelamat sekaligus pemegang teguh kebudayaan negeri ini,” pungkasnya.

