JAKARTA: Perang di era modern tidak lagi semata ditentukan oleh kekuatan senjata dan pasukan militer, melainkan oleh narasi, persepsi, dan arus informasi yang dibangun melalui media massa dan platform digital.
Ruang informasi kini menjadi medan tempur baru dalam percaturan geopolitik global.
Pandangan tersebut disampaikan Asep Setiawan saat menjadi narasumber talkshow media dalam rangka puncak tasyakuran Milad ke-13 Kantor Berita MINA, di Auditorium HB Jassin, Perpustakaan DKI Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Rabu, 14 Januari 2025.
Asep mencontohkan bagaimana perang informasi telah lama menjadi bagian dari strategi militer modern, salah satunya saat invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.
Saat itu, media Amerika diminta untuk ikut bersama pasukan militer dalam skema embedded journalism.
“Ketika Amerika menyerang Irak tahun 2003, militer mereka meminta media untuk ikut bersama pasukan. Karena mereka meyakini perang militer juga adalah perang informasi,” ujar Asep.
Menurutnya, praktik tersebut membuktikan bahwa media massa memiliki peran besar dalam membentuk opini publik dan cara pandang masyarakat terhadap suatu konflik.
Peran itu semakin menguat seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi global.
Ia menegaskan bahwa dalam konteks geopolitik kontemporer, media tidak lagi terbatas pada fungsi to inform, to educate, dan to entertain, tetapi telah menjadi instrumen strategis kekuatan global.
“Perang informasi atau information warfare telah menjadi dimensi baru konflik geopolitik modern. Narasi, persepsi, dan konstruksi realitas adalah medan pertempuran yang tidak kalah penting dari perang fisik,” katanya.
Asep juga menyoroti bagaimana propaganda global dibangun secara sistematis, termasuk dalam isu Palestina.
Narasi pro-zionisme, menurutnya, diproduksi melalui media massa, media sosial, dan internet, baik secara halus maupun terbuka, untuk membentuk imajinasi publik dunia.
“Propaganda ini bahkan sudah menjadi industri bernilai miliaran dolar. Media digunakan untuk membenarkan kepentingan politik tertentu,” ungkapnya.
Dalam situasi tersebut, Asep memandang media Islam memiliki peran strategis sebagai kontra-narasi dalam perang informasi global.
Ia menyebut penyampaian informasi yang benar, adil, dan berimbang sebagai bentuk perjuangan yang nyata.
“Informasi itu seperti udara bagi publik. Kalau udara yang dihirup beracun, maka masyarakat akan rusak. Di sinilah tanggung jawab media,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta apa adanya, tetapi juga mengemas pesan melalui framing dan sudut pandang yang berlandaskan nilai.
“Jurnalisme bukan hanya mencetak apa yang terjadi. Message is the number one. Berita adalah framing untuk menyampaikan pesan,” kata Asep.
Asep juga menyinggung tantangan media di era digital yang kini bersifat always on dan omnipresent.
Tidak ada lagi batasan waktu seperti era media cetak, karena informasi bergerak setiap detik.
“Sekarang tidak ada lagi deadline. Every minute, every second. Media punya tanggung jawab besar memberi ‘makanan informasi’ kepada publik,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong penguatan profesionalisme jurnalis, peningkatan literasi media umat, serta kemandirian institusi pers melalui skema alternatif seperti wakaf media, donasi, dan crowdfunding, agar media tidak sepenuhnya bergantung pada algoritma platform global.
Asep menegaskan bahwa kekuatan jurnalisme terletak pada kemampuannya menggerakkan emosi dan tindakan publik.
“Kalau sebuah berita bisa membuat orang menangis, marah, tersentuh, lalu bergerak, di situlah kekuatan jurnalisme,” pungkasnya.

