SAMARINDA : Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Provinsi Kalimantan Timur menggelar kegiatan bedah buku berjudul “Manajemen Pendidikan Karakter Siswa Era Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0” karya penulis Yessi dan “Challenges For Effective Leadership in Digital Industrial Revolution 4.0” karya penulis Zaenab Hanim.

Menghadirkan narasumber Anggota DPRD Provinsi Kaltim Sarkowi V. Zahry, Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda Muhammad Nasir dan Rektor Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda Ali Mushofa. Kegiatan tersebut digelar di Gedung PGRI Kaltim, Jalan Harva Kota Samarinda, Rabu (8/3/2023).
Ketua ISPI Provinsi Kaltim Dwi Nugroho Hidayanto mengatakan, sebagai rumah pendidikan Indonesia, ISPI terus berkontribusi dalam mendukung dan memajukan pembangunan bidang pendidikan di daerah Benua Etam melalui program-program kerja peningkatan kualitas dan mutu dunia pendidikan.
“Kegiatan ini diharapkan memberikan dampak positif serta manfaat yang baik bagi dunia pendidikan. Secara umum ISPI Kaltim akan aktif berpartisipasi dalam mencapai keberhasilan pendidikan yang maju di Kaltim,” ungkapnya saat ditemui narasi.co usai kegiatan.
Prof. Dwi sapaan akrabnya menerangkan ISPI Kaltim sebagai organisasi profesi terus berperan untuk memberikan sumbangsih pemikiran, inovasi, dan solusi melalui sinergitas dan kerja sama pemerintah daerah terhadap pendidikan di Indonesia pada umumnya dan Kaltim pada khususnya.
Sebut dia untuk memajukan pendidikan dengan segala perubahan teknologi informasi dan perkembangan lingkungan global, diperlukan kerja keras dan bukan sekedar biasa. Kata dia perlu ekstraordinary policy ( kebijakan luar biasa) yang di hasilkan oleh pemerintah di bidang pendidikan.
Diutarakannya ekstraordinary policy harus mencakup peningkatan tiga domain utama pendidikan, yakni input (masukan), Procces (proses) dan output (hasil). Kemudian kebijakan untuk transformasi peningkatan lembaga pendidikan, sumber daya manusia baik itu guru, tenaga pendidik lainnya dan siswa juga patut di lakukan.
“Ke depan kita harus memiliki effort yang lebih banyak lagi, ekstraordinary policy, misal ketika nasional mewajibkan pendidikan wajib 9 tahun, di daerah kita Kaltim berani ngambil kebijakan besar pendidikan wajib 12 tahun dan di biayai oleh pemerintah,” ucapnya.
“Program-program besar lainnya seperti beasiswa Kaltim dengan anggaran yang besar. Artinya big think big do, berpikir besar dan bertindak besar,” sambungnya.

