Waktunya singkat, hanya sekitar tiga puluh menit. Namun sore itu, ruang Ngobrol Inspirasi bersama Media Sukri Indonesia (MSI) Group terasa penuh oleh cerita panjang tentang jatuh-bangun perjalanan hidup.
Tema kegiatan hari itu sederhana tapi berat maknanya: “Sukses itu perlu perjuangan dan kerja keras”. Dan Nidya Listyono, Ketua Dewan Pakar JMSI Kalimantan Timur yang kerap disapa Tyo tidak datang membawa materi presentasi melainkan lewat perjalanan panjang yang telah ia lewati sendiri.

Tyo lahir di Madiun, 29 September 1980. Namun hidup dan karakternya dibentuk di Samarinda. Ia menempuh pendidikan di SMAN 3 Samarinda, melanjutkan S1 Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), lalu meraih gelar Magister Ekonomi di Universitas Mulawarman.
Sejak SD, ia sudah berdagang, jualan rokok hingga jadi bellboy lapangan tenis untuk mengumpulkan recehan demi recehan. “Itu melatih mental saya,” ujarnya, Jumat 12 Desember 2025, saat bersama wartawan dan staf MSI Group.
Bahkan ketika sudah menyandang gelar sarjana, ia tidak serta-merta duduk menunggu pekerjaan mapan. Sekembalinya dari Yogyakarta ke Kalimantan Timur, Tyo justru memilih jalan yang tidak banyak dilirik orang yaitu jualan koran, enam bulan lamanya. Subuh-subuh ia mengambil koran ke kantor redaksi salah satu perusahaan media, lalu berkeliling menjajakan lembaran berita.
“Saya sarjana S1, tapi subuh sudah bangun, malu telat, ketinggalan omzet,” katanya.
Baginya, gelar bukan alasan untuk berhenti berjuang. Justru sebaliknya, gelar harus diiringi kerendahan hati untuk tetap mau berjuang.
“Saya tidak mau jadi sarjana yang sombong. Tidak mau malas. Tidak mau eksklusif,” tambahnya.
Menurut Tyo, kerja keras bukan soal kata-kata indah di seminar. Kerja keras itu keringat, capek, bahkan “kotor” dalam arti positif. “Kotor itu artinya mau berpayah-payah, mau belepotan,” ujarnya.
Di hadapan para jurnalis dan pengelola media yang hadir, Tyo menegaskan satu hal penting: sukses tidak pernah murah.

Ia menyinggung kebiasaan bekerja ala hitung-hitungan, datang tepat waktu, pulang tepat waktu, lalu berharap hasil besar.
“Kalau kerja jam delapan sampai jam lima masih hitung-hitungan, ingat, Tuhan juga hitung-hitungan sama kita,” katanya.
Menurutnya, kerja keras bukan slogan. Kerja keras adalah kesediaan membayar harga—dengan waktu, tenaga, dan keikhlasan.
Baginya, sukses itu soal mau membayar harga. Mau makan enak? Ada harganya. Mau hidup nyaman? Ada prosesnya. Mau berhasil? Jangan tidur di zona nyaman.
Perjalanan profesional Tyo ditempa selama 14 tahun di BFI Samarinda (2005–2019). Ia memulai dari bawah yakni marketing, survei lapangan, kolektor, operasional. Semua dikerjakan.
Ketika ada tugas di luar job description, ia ambil. Ketika diminta turun ke lapangan, ia berangkat.
“Kalau mau jadi senior, jangan jadi spesialis terus Pemimpin itu harus jadi generalis,” ujar Tyo.
Pesan ini ia kaitkan langsung dengan dunia jurnalistik. Menurut Tyo, jurnalis bukan hanya soal menulis, tapi juga memahami manajemen, tanggung jawab redaksi, hingga keberlanjutan perusahaan media.
Etos kerja yang sama dibawanya ke ruang publik. Kala itu, Tyo menjabat Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Timur periode 2019–2024, lalu kini dipercaya sebagai Direktur Utama PT Bara Kaltim Sejahtera (BKS). Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Perbasasi Kalimantan Timur.
Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika Tyo bicara soal cara bekerja.
“Kalau gaji Anda Rp2 juta, bekerjalah seperti digaji Rp5 juta,” katanya.
Bukan demi pencitraan, tapi karena ia percaya Tuhan mencatat keikhlasan kerja. Selisihnya, kata dia, akan dibayar dalam bentuk lain seperti kesehatan, keluarga, atau rezeki yang tak disangka.
Sebaliknya, jika digaji Rp2 juta tapi bekerja seperti digaji Rp1 juta, malas, curi waktu, maka yakinlah, katanya, Tuhan akan menagih. Bisa lewat sakit, kehilangan, atau hal-hal kecil yang terasa sepele tapi menguras biaya.
Tyo berulang kali mengingatkan agar tidak membatasi diri sendiri. Modal bukan selalu uang. Modal utama adalah akal, kemauan, dan keberanian mengambil peluang.
Menurut Tyo, banyak orang gagal bukan karena tidak pintar, melainkan karena tidak siap mengambil peluang. Kesempatan sering datang di saat seseorang sedang lelah, nyaman, atau ingin menunda.
“Opportunity itu kayak Lailatul Qadar. Datangnya enggak bisa diprediksi,” kata Tyo. Jika dilewatkan, kesempatan itu tidak hilang hanya berpindah ke orang lain.
Ia mengingatkan bahwa banyak kegagalan bukan karena kurang pintar, tetapi karena tidak konsisten.
Di tengah obrolan itu, Tyo menyebut satu prinsip yang sejak lama ia pegang: man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang akan mendapatkan hasil. Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar klise. Namun dalam penjelasannya, Tyo mengembalikannya ke makna yang sangat praktis.
“Kalau tidak ada yang diperjuangkan, ya tidak akan ada yang didapat,” ujarnya.
Bagi Tyo, kesungguhan bukan soal bekerja keras sesekali, melainkan konsistensi. Bukan tentang terlihat sibuk, tetapi tentang kesediaan membayar harga,waktu, tenaga, dan kenyamanan secara terus-menerus. Kesungguhan adalah saat seseorang tetap berusaha meski hasil belum terlihat, dan tetap melangkah meski jalan terasa berat.
Ia mengibaratkan kehidupan dengan hukum fisika air. Menurutnya, air akan selalu mengalir mengikuti kontur alam. Ia tidak memilih, tidak merencanakan, dan tidak menentukan tujuan. Ke mana ia berakhir, sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan.
“Kalau manusia hidupnya cuma mengalir, hasilnya tergantung ke mana dia jatuh,” ucapnya.
Air yang jatuh ke laut akan menjadi asin. Air yang masuk ke sungai Mahakam akan keruh dan jika mengalir ke selokan, ia akan berubah menjadi hitam berbau. Bukan karena air itu salah, melainkan karena ia tidak pernah menentukan arah.
Bagi Tyo, manusia seharusnya tidak hidup seperti air. Manusia diberi akal bukan untuk sekadar mengikuti arus, tetapi untuk merancang tujuan hidupnya sendiri. Tanpa mimpi dan rencana, seseorang hanya akan bergerak tanpa benar-benar sampai ke mana pun.
Analogi lain yang disampaikan Tyo adalah kisah harimau dan rusa. Bukan soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih siap menghadapi perubahan.
Secara fisik, harimau jelas lebih kuat. Jika berhadapan langsung, rusa hampir pasti kalah. Namun, kekuatan saja tidak cukup. Yang menentukan adalah kecepatan bergerak dan kemampuan beradaptasi.
Jika rusa selalu bangun lebih lambat, ia akan selalu berada dalam bahaya. Tetapi jika rusa mampu bangun lebih awal, bergerak lebih cepat, dan membaca situasi dengan lebih cermat, justru harimau yang akan kesulitan mendapatkan mangsa.
“Bukan siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling siap berubah,” tegas Tyo.
Menurutnya, banyak kegagalan dalam hidup bukan karena kalah pintar atau kalah kuat, melainkan karena terlambat bergerak. Dunia berubah cepat. Mereka yang lambat menyesuaikan diri akan tertinggal bahkan punah.
Sebelum azan magrib terdengar, Tyo menutup obrolan inspirasi itu dengan satu kalimat yang sederhana tapi tajam: “Semua berawal dari kepala Anda”
Pikiran positif akan melahirkan energi positif. Pesimisme hanya melemahkan langkah. Dan sukses apa pun ukurannya tidak akan datang pada mereka yang hanya menunggu.
Pukul 18.00 Wita menunjukan waktu habis. Namun cerita itu tertinggal rapi, jujur, dan membekas di kepala siapa pun yang mendengarnya.

