SAMARINDA: Berawal dari gerai kecil ayam goreng pada Januari 2018, Assalam Fried Chicken (AFC) kini menjelma menjadi salah satu titik persinggahan kuliner favorit di jalur travel Balikpapan-Samarinda-Bontang hingga Sangatta.
Mengusung konsep semi resto dengan cita rasa hotel berbintang, usaha milik Ahmad Sukarman ini berkembang pesat, khususnya di kawasan Tanah Merah, Samarinda.
Ahmad Sukarman, owner Assalam Fried Chicken, menuturkan bahwa awalnya AFC hanya menjual ayam goreng dan beberapa menu stik sederhana. Dua tahun berselang, tepatnya pada 2020, ia mulai mencoba sistem waralaba (franchise).
“Cabang pertama waktu itu di Jalan Abdul Sjahranie. Lalu buka di Malang, di Jalan Soekarno Hatta, dan satu lagi di Kutai Barat. Sempat mau ke Tenggarong juga,” ujarnya.
Namun pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat. Cabang di Malang yang sempat beroperasi sekitar satu tahun terpaksa tutup akibat pembatasan jam operasional.
“Waktu itu buka jam 9 pagi, jam 9 malam sudah harus tutup. Bukan karena enggak laku, tapi memang kondisi Covid,” jelasnya.
Pasca pandemi, Ahmad memilih fokus mengembangkan outlet utama di Tanah Merah.
Lokasinya yang strategis, tepat di seberang Masjid Nurul Hidayah Samarinda, menjadikannya titik singgah favorit travel antarkota.
Kini, AFC bertransformasi menjadi “Assalam Fried Chicken and Resto” dengan konsep indoor dan outdoor.
Target pasarnya menyasar kalangan menengah ke atas, termasuk penumpang dari dan menuju Bandara APT Pranoto maupun dari Balikpapan.
“Sekarang kerja sama dengan travel seperti Sanjaya, Cendana, Helda, dan beberapa travel kecil ke Bengalon, Sangatta, Wahau sampai Berau. Hampir pasti mampirnya ke Assalam,” katanya.
Menu yang ditawarkan tidak hanya ayam goreng original, tetapi juga sajian bergaya oriental, Jepang, Eropa hingga Nusantara.
Ahmad mengaku membawa standar rasa dari pengalaman panjangnya sebagai chef hotel.
Ia merupakan lulusan Akademi Pariwisata Nasional (Akparnas) Samarinda dan telah berkarier sebagai chef sejak 1997 hingga terakhir di Hotel Bumi Senyiur Samarinda pada 2010.
“Rasa yang kita bawa itu rasa hotel berbintang, tapi harga tetap masuk kantong anak muda. Paket fried chicken mulai Rp16 ribu sampai Rp65 ribu,” jelasnya.
Selain ayam goreng original sebagai menu utama, tersedia pula sop tulang, aneka tumisan, dan menu khas resto yang menjadi pembeda dibanding gerai ayam goreng pada umumnya.
Dari sisi omzet, Ahmad mengungkapkan pendapatan kotor per hari bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp12 juta pada hari normal.
Saat arus mudik atau arus balik Lebaran, lonjakannya bisa lebih tinggi.
“Kalau H-10 Lebaran atau arus balik itu parah ramainya. Tanpa catering saja sudah sibuk,” ujarnya. Meski demikian, AFC juga melayani pesanan catering dari perusahaan, pribadi hingga instansi pemerintah, meski belum dalam bentuk kontrak tetap.
Pertumbuhan pesat ini memunculkan tantangan baru, yakni keterbatasan lahan parkir.
Ahmad mengaku kerap kewalahan saat travel besar bahkan bus ingin singgah.
“Sekarang malah kekurangan parkir. Bus pengen masuk, tapi enggak bisa karena parkiran sempit. Ke depan kami cari lokasi pinggir jalan yang parkirnya luas,” katanya.
Terkait rencana membuka outlet di pusat Kota Samarinda atau di Bandara APT Pranoto, Ahmad mengaku masih mempertimbangkannya secara matang.
“Banyak tawaran di bandara, tapi image makan di bandara itu mahal. Sementara pelanggan kami banyak yang rela nahan lapar dari Balikpapan demi makan di Tanah Merah,” tuturnya.
Dengan konsep lokal bercita rasa hotel dan posisi strategis di jalur utama travel, Assalam Fried Chicken kini bukan sekadar gerai ayam goreng, melainkan simpul pertemuan para pelancong lintas kota di Kalimantan Timur.

