SAMARINDA: Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur (Kaltim) menggandeng sektor swasta untuk mempercepat riset dan pengembangan tanaman sacha inchi sebagai solusi ganda, penanganan stunting dan alternatif bahan baku energi baru terbarukan.
Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, menyampaikan bahwa kolaborasi riset saat ini dilakukan bersama sejumlah perusahaan, salah satunya PT Kideco Jaya Agung.
“Kami berkolaborasi dengan perusahaan seperti Kideco untuk riset potensi unggulan daerah, salah satunya kacang sacha inchi yang kaya Omega 3, 6, dan 9 sebagai superfood,” ujarnya saat ditemui sesuai acara Penganugerahan Inovasi dan Riset Daerah di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu, 10 Desember 2025.
Menurut Fitriansyah, sacha inchi memiliki nilai strategis karena dapat digunakan sebagai pangan bergizi tinggi sekaligus bahan baku biofuel.
Tanaman ini menghasilkan minyak nabati dengan kandungan asam lemak esensial tinggi dan biomassa yang berpotensi diolah menjadi energi hijau.
Ia mengungkapkan Dewan Energi Nasional (DEN) telah memberikan tantangan khusus kepada BRIDA untuk menjadikan sacha inchi sebagai komoditas biofuel Kaltim.
“Sekarang kami berupaya meyakinkan penyandang dana untuk pengadaan mesin teknologi tepat guna agar minyak nabati sacha inchi bisa diolah menjadi biofuel,” jelasnya.
Selain sacha inchi, BRIDA juga terus menyempurnakan riset ekstrak minyak ikan haruan yang diformulasikan untuk menekan angka stunting di Kaltim. Produk ini diklaim kaya nutrisi dan relevan dengan kondisi gizi lokal.
Fitriansyah menegaskan riset semacam ini membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, hingga korporasi.
BRIDA kini aktif mendorong perusahaan di Kaltim untuk mengalokasikan anggaran tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) atau CSR pada pendanaan riset.
“Banyak perusahaan sebenarnya memiliki kemampuan riset internal. Melalui skema joint funding, pendanaan bersama bisa menutup kebutuhan teknologi dan biaya lapangan,” terangnya.
Model pendanaan bersama ini diharapkan menjadi solusi atas hambatan klasik penelitian daerah, termasuk terbatasnya anggaran perjalanan peneliti ke wilayah terpencil yang menjadi lokasi komoditas unggulan.
Fitriansyah optimistis pendekatan kolaboratif yang melibatkan swasta dapat mempercepat inovasi dan menghasilkan riset yang lebih implementatif.
“Dengan strategi ini, hasil penelitian di Kalimantan Timur diharapkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

