SAMARINDA: Di tengah hiruk pikuk Kota Samarinda, ada satu tempat yang menawarkan ketenangan sekaligus tantangan ringan bagi tubuh. Namanya Bukit Steling, sebuah destinasi wisata alam yang perlahan menjadi favorit warga untuk melepas penat, berolahraga ringan, sekaligus menikmati panorama Kota Samarinda dari ketinggian.
Tak perlu perjalanan jauh atau persiapan rumit. Dari pusat kota, pengunjung hanya perlu menuju kawasan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir.
Uniknya, akses menuju Bukit Steling justru dimulai dari sebuah gang kecil di tengah permukiman warga. Dari sinilah petualangan singkat menuju puncak dimulai.
Pendakian Singkat, Tantangan Menarik untuk Pemula

Setelah membayar tiket masuk, pengunjung akan diarahkan ke jalur trekking awal.
Sebetulnya untuk sampai kepuncak, tersedia beberapa rute. Namun, kami disarankan untuk menggunakan rute pertama yang dinilai aman untuk pemula.
Meskipun dinilai aman, kami langsung dihadapkan dengan 92 anak tangga beton yang cukup tinggi dan memanjang. Di titik inilah napas mulai diuji, meski suasana sekitar yang relatif sunyi dan sapaan ramah warga sekitar membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Selepas anak tangga, jalur berubah menjadi tanah dan bebatuan dengan kemiringan yang lebih curam. Tantangan pun terasa lebih nyata.
Tepat saat kami mengunjungi destinasi ini, Kamis, 1 Januari 2026, hujan yang mengguyur Samarinda sejak siang membuat jalur pendakian cukup licin, sehingga pengunjung dituntut lebih berhati-hati dan memperhatikan kondisi cuaca.
Meski begitu, rasa penasaran akan pemandangan di atas puncak seolah memanggil setiap langkah. Waktu tempuh menuju puncak relatif singkat, sekitar 15โ30 menit dari titik awal. Jika sudah bertemu warung kecil di tengah pendakian, itu pertanda separuh perjalanan telah terlewati.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali mendaki, disarankan membawa minum yang cukup dan datang bersama teman demi keamanan dan kenyamanan.
Panorama 360 Derajat Kota Samarinda

Lelah pendakian terbayar lunas begitu mencapai puncak. Dari ketinggian sekitar 117 meter di atas permukaan laut, Bukit Steling menyuguhkan pemandangan 360 derajat Kota Samarinda yang memukau.
Sungai Mahakam tampak berkelok membelah kota, dengan kapal-kapal besar dan ponton yang melintas setiap hari terlihat seperti miniatur bergerak dari kejauhan. Di sisi lain, hamparan bangunan kota, perbukitan, hingga Jembatan Mahakam berdiri menghiasi lanskap Kota Pesut Mahakam.
Jika pengunjung bertahan hingga sore dan didukung dengan cuaca yang bagus, akan ada bonus dengan sunset yang perlahan menurunkan cahaya keemasan di balik cakrawala. Sementara saat malam tiba, city lights Samarinda menyala satu per satu, menciptakan suasana yang membuat banyak orang betah duduk lama, sekadar menikmati angin dan pemandangan.
Wisata Sekaligus Ruang Olahraga Warga
Irmansyah dan Asni, yang merupakan bagian dari pendiri Bukit Steling, menjelaskan sejak awal tempat ini memang dirancang sebagai destinasi wisata.
Namun seiring waktu, fungsi Bukit Steling berkembang menjadi ruang aktivitas masyarakat.
โTujuan awalnya memang wisata. Tapi kami juga melihat treknya yang menanjak dan tidak beraturan, sehingga bisa menjadi ajang olahraga masyarakat,โ ujar Irmansyah kepada Narasi.co.
Menurutnya, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan kota dan sunset, tetapi juga merasakan tantangan fisik ringan dari jalur pendakian. Kombinasi wisata dan olahraga inilah yang membuat Bukit Steling diminati berbagai kalangan.
Asni menambahkan, di puncak Bukit Steling banyak hal yang bisa dinikmati pengunjung.
“Fasilitasnya kami buat cukup lengkap. Ada bangku dan meja di setiap sisi untuk bersantai, kantin, gazebo, toilet, hingga area camping. Untuk musala sementara masih menggunakan gazebo yang tersedia,โ jelasnya.
Fasilitas Lengkap dan Tiket Terjangkau
Pengelola juga terus melakukan pembenahan fasilitas. Di malam hari, area puncak telah dilengkapi lampu-lampu hias yang menambah kesan estetik sekaligus membantu penerangan.
Soal tiket, pengunjung memang dikenakan pembayaran dua kali, yakni saat parkir dan saat memasuki area puncak Bukit Steling.
– Hari biasa: Rp5.000
– Hari libur atau hari besar: Rp10.000
Artinya, pada hari besar, pengunjung cukup menyiapkan sekitar Rp20.000 untuk menikmati panorama Kota Samarinda dari ketinggian.
Bagi yang ingin camping, tarifnya Rp10.000 pada hari biasa dan Rp15.000 saat akhir pekan atau hari besar. Menariknya, biaya tersebut sudah termasuk tikar gratis dan akses listrik untuk mengisi daya perangkat elektronik.
Fokus Pengembangan 2026 dan Ajakan untuk Warga
Memasuki 2026, Irmansyah dan Asni menyebutkan pengembangan fasilitas akan difokuskan pada pembangunan musala permanen, mengingat kebutuhan ibadah pengunjung yang terus meningkat.
โKami juga terus berusaha meningkatkan kualitas fasilitas agar pengunjung merasa aman dan kebutuhannya tercukupi,โ kata Asni.
Keduanya turut mengajak warga Samarinda, khususnya generasi muda, untuk meramaikan dan mengenalkan Bukit Steling lebih luas. Bahkan, pengelola membuka peluang bagi komunitas yang ingin mengadakan kegiatan seperti senam, jogging, atau event lari, dengan akses yang diberikan secara gratis.
โSilakan datang dan nikmati keindahan Kota Samarinda dari puncak Steling. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama,โ tutup Irmansyah.
Dengan akses mudah, panorama menawan, serta fasilitas yang terus dikembangkan, Bukit Steling kini bukan sekadar tempat melihat kota dari atas, melainkan ruang singgah bagi warga yang ingin berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali menyapa alam.

