SAMARINDA: Ribuan jemaah dari berbagai kalangan memadati Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda, dalam majelis Tabligh Akbar bersama ulama kharismatik, Yahya Zainul Ma’arif atau yang biasa dikenal Buya Yahya.

Kehadiran Buya Yahya disambut langsung oleh Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji. Seno menyampaikan rasa terima kasih kepada panitia pelaksana serta berharap kegiatan religius tersebut membawa keberkahan bagi masyarakat Kaltim.
“Tabligh akbar ini membawa ketenangan batin, dengan kehadiran guru dan ulama yang memberi pencerahan. Semoga menjadi amal dan berkah bagi Kaltim,” ujar Seno Aji dalam sambutannya, Rabu, 10 Desember 2025.
Buya Yahya yang juga Pimpinan dan pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, memberikan pesan mendalam tentang cara mengelola luka hati melalui doa, maaf, dan cinta sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Buya Yahya membuka tausiah dengan gambaran suasana padang mahsyar, tempat manusia dikumpulkan kelak, di mana orang-orang yang hidup dengan cinta, bukan dendam dan kebencian, akan berada dalam rombongan menuju surga.
“Tidak ada alasan kita bertemu, jika bukan karena cinta di hati atas kerinduan. Maka mari kita hiasi hidup ini dengan cinta dan kedamaian, agar kelak urusan di akhirat kita mudah,” ujar Buya Yahya di hadapan jamaah.
Buya menegaskan, orang yang menyimpan dengki, iri hati, atau tidak senang melihat kebahagiaan orang lain justru akan merugi. Sementara mereka yang mampu memaafkan akan dimuliakan di akhirat.
Buya Yahya menyampaikan, awal menata hati dimulai dari sesuatu yang sederhana namun berat dilakukan: memperbanyak doa untuk orang yang menyakiti kita.
Menurutnya, doa untuk orang yang pernah berbuat buruk justru paling cepat dikabulkan, karena menandakan kebersihan hati dan ketulusan.
“Doa yang paling mudah dikabulkan adalah doa untuk kebaikan orang yang bermasalah dengan kita. Faedahnya ada dua: hati menjadi sejuk, dan Allah kabulkan doa itu untuk diri kita,” jelasnya.
Pendakwah yang lahir di Blitar, Jawa Timur, pada tanggal 10 Agustus 1973 itu juga menekankan agar jemaah tidak sibuk menuntut balasan di akhirat hanya karena tidak mampu memaafkan di dunia. Karena hakikatnya, seluruh manusia pasti memiliki kekurangan, termasuk pasangan dan orang terdekat.
Tak sampai disitu, Buya menjelaskan perihal ukhuwah bukan sekadar simbol lahiriah, tetapi dimulai dari hati. Buya mengingatkan hadirin bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan, termasuk orang terdekat.
Buya mencontohkan dalam kehidupan rumah tangga, meski pasangan saling mencintai, tetap akan ada ketidaksempurnaan karena manusia pasti berbuat salah.
“Suamimu atau istrimu yang sangat baik, tetaplah dia sebagai manusia, tentu akan ada kesalahan. Maka siapkan ruang untuk memaafkan,” jelasnya.
Selain tentang pengelolaan hati, Buya juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana damai di rumah agar membentuk karakter anak.
“Tidak cukup dari hati yang merindukan kedamaian, perilaku juga harus menciptakan kedamaian di rumah dan masyarakat,” ucapnya.
Buya mengimbau keluarga agar memperbaiki komunikasi, memperbanyak waktu bercengkrama, dan mengurangi kesibukan individual seperti gawai.
“Segala situasi yang kita ciptakan akan direkam oleh anak, dan itu membentuk karakter anak,” katanya.
Buya menegaskan bahwa anak akan meniru perilaku orang tua, bukan sekadar nasihat.
“Tata hatimu agar mampu memaafkan orang lain, ciptakan suasana indah untuk sekitar, dan perbaiki hubunganmu di keluarga,” pesan Buya Yahya menutup ceramah.

