Samarinda-Setiap perhelatan besar seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) akan selalu ada cerita. Kisah bahagia ketika seorang atlet sukses meraih prestasi terbaik, atau sebaliknya kecewa setelah gagal, karena satu kesalahan kecil yang tak sengaja dibuatnya.
Pasti banyak cerita pula dari para tamu yang datang, pun tuan rumah. Apapun profesi dan kapasitas mereka.
Berbagai kisah juga pasti berlaku bagi para wartawan yang akan bertugas melakukan liputan PON. Seperti dialami Intoniswan, Pemimpin Redaksi Niaga Asia
Bermaksud melakukan tugas liputan ke Papua, Inton berangkat bersama sejumlah atlet Kaltim. Karena tidak ada penerbangan langsung ke Papua dari Balikpapan atau Samarinda, ia pun memilih terbang dengan transit di Bandara Juanda Surabaya, pada Jumat, 1 Oktober 2021.
Keesokan paginya, baru akan ada flight langsung ke provinsi paling timur Indonesia itu.
Saat transit di Surabaya itu, ia teringat koleganya sesama wartawan di Kaltim Post, yang sekarang bekerja di Jawa Pos Grup, Bambang Janu Isnoto.
“Mungkin sudah 20 tahunan saya gak ketemu Bambang Janu. Teman waktu Kaltim Post dulu,” kata Inton.
Wartawan asal Payakumbuh, Sumatera Barat itu pun mengirimkan pesan watshapp kepada Bambang. Kebetulan, tas gendong yang dibawanya dari Samarinda, kedua talinya putus saat baru berada di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan. Ia bermaksud membeli sebuah koper kecil yang bisa dibawa ke kabin pesawat untuk penerbangan berikutnya.
Tak perlu waktu lama Bambang Janu membalas. Ia siap datang menjemput ke Bandara Juanda, meski saat itu ia sedang memimpin rapat redaksi di Graha Pena, markas JPNN. Selesai rapat ia berjanji akan segera menjemput.
Intoniswan lalu turun dan menunggu di area bandara, tak jauh dari tempat ia menginap untuk transit.
Beberapa saat berikutnya, tampak Wakil Bupati Kutai Timur Kasmidi Bulang. Setelah menyapa Inton, ia mengaku charger HP miliknya tertinggal. Inton pun menawarkan bantuan kepada orang nomor dua di Kutai Timur itu.
“Kebetulan Pak, saya lagi nunggu teman mau ke kota sebentar. Bisa saya carikan. HP apa Pak,” tanya Inton.
Tak berselang lama, Bambang Janu tiba. Mereka pun tampak sangat bahagia.
“Mas Bambang ini makin lama bukannya makin tua, malah makin muda kalau saya lihat,” buka Inton mengawali pertemuan mereka.
“Ah bisa aja. Pak Inton juga gak berubah. Masih menggelegar kalo ngomong,” balas Bambang Janu.
Mereka pun segera bergerak menuju kota. Mereka harus cepat, karena meski sudah masuk PPKM Level 2, Surabaya sangat ketat untuk aktivitas mal dan pusat perbelanjaan.
“Jam 10 sudah tutup semua. Jalur-jalur utama di kota juga banyak ditutup. Aktivitas kuliner hanya ada di pinggiran kota,” jelas Bambang.
Belum genap satu kilometer keluar dari Bandara Juanda memasuki tol Sidoarjo, suara ban kendaraan berubah, meski setir mobil masih dalam kondisi stabil.
Mereka pun menepi. Benar saja, ban belakang sebelah kanan kempes habis. Sepucuk besi seukuran paku menancap, mak jleb.
Mereka pun berada dalam suasana yang campur baur. Saat ban bocor, persis di tikungan kilometer pertama. Gelisah untuk segera bisa mengganti ban, dan mal tidak tutup karena harus membeli koper dan charger wakil bupati.
“Baru dua kali mobil ini bocor dan ini pas di tol. Bawa Pak Inton lagi. Maaf ya Pak Inton,” canda Bambang Janu, sambil memutar baut ban. Mereka pun menghapus panik dengan canda tawa sambil memasang ban cadangan.
Sekitar 30 menit, ban kembali normal. Mereka pun bergegas mencari mal terdekat, karena jika masuk kota, mal pasti sudah tutup semua.
Tak jauh dari tol, ada mal. Inton segera mencari koper dan charger. Lantai 1 masih ada beberapa stan yang buka. Tapi sebagian sudah tutup.
Penjual charger banyak di lantai 2 mal itu, tapi sayang semuanya sudah tutup. Inton hanya bisa membeli koper, sementara pesanan Wakil Bupati Kasmidi Bulang, belum di tangan. Waktu terus bergerak malam.
Beberapa mal terdekat pun mulai tutup, sedangkan beberapa toko kecil tidak menjual charger yang dicari.
Lewat pukul 10 malam, mereka pun memutuskan berhenti mencari charger dan memilih mencari bebek goreng Surabaya yang empuk dan lezat. Pasalnya, perut keduanya sudah mulai berontak.
Setelah makan selesai Bambang mengarahkan laju kendaraannya ke Graha Pena, tempat ia berkantor.
“Sudah, pakai punya saya aja. Kita ambil di kantor,” celetuk Bambang Janu.
Inton pun gembira karena misinya kali ini berhasil. Koper dan charger sudah di tangan. Wakil Bupati Kasmidi Bulang ternyata tak kalah senang, karena baterai HP-nya akan kembali terisi penuh.

