SAMARINDA: Berawal dari iseng-iseng jualan pempek secara online, Rozalina (42) justru menemukan sumber penghasilan yang kini menopang usahanya hingga bertahan dan berkembang dengan sertifikasi halal.
Rozalina mengaku usaha pempek dan tekwan O’man yang kini dijalankannya bermula tanpa rencana besar.
“Awalnya iseng-iseng, ternyata jadi cuan,” ujar Rozalina saat ditemui di stan UMKM Gebyar Raya UKM Kaltim di halaman Galeri UKM Kaltim, Jumat, 12 Desember 2025.
Ia hanya mencoba menjual pempek buatan sendiri melalui media daring sebelum akhirnya mulai memahami bahwa berdagang tidak sekadar soal rasa, tetapi juga kelengkapan administrasi usaha.
“Awalnya saya jualan online saja. Setelah ikut pelatihan dari DPPKUKM, baru paham kalau berdagang itu bukan cuma jualan, tapi harus ada NIB, halal, dan kelengkapan lain,” ujarnya.
Sejak mengikuti pendampingan tersebut, Rozalina mulai mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga rutin mengikuti pelatihan UMKM. Usahanya sendiri telah dirintis sejak 2018 dan terus bertahan hingga kini.
Pempek O’man, merek dagang yang ia kembangkan, menawarkan berbagai pilihan produk.
Paket reguler dijual seharga Rp25.000 berisi tiga jenis pempek, yakni lenjer, adaan, dan selam.
Sementara paket keluarga tersedia dalam kemasan 1 kilogram seharga Rp115.000 dan ½ kilogram seharga Rp58.000 dengan ukuran lebih kecil dan varian campuran.
Selain pempek, Rozalina juga menjual tekwan. Tekwan siap santap dibanderol Rp15.000 per porsi, sedangkan paket pentolan tekwan setengah kilogram lengkap dengan kuah dijual Rp55.000 untuk konsumen yang ingin meracik sendiri di rumah.
Pemilihan produk pempek dan tekwan didasarkan pada ketersediaan bahan baku di Kalimantan Timur yang relatif melimpah.
“Di sini ikannya banyak, jadi bahan bakunya mudah dicari,” katanya.
Ciri khas Pempek O’man terletak pada komposisi bahan dan rasa.
Rozalina menggunakan perbandingan satu kilogram ikan dan satu kilogram kanji, sehingga rasa ikan tetap dominan.
Kuah cukonya pun dibuat dari gula merah, cabai rawit, bawang putih, dan cuka, dengan cita rasa khas Palembang.
Dalam aktivitas penjualan, Rozalina juga memanfaatkan sistem pembayaran QRIS. Menurutnya, transaksi non-tunai memudahkan pembeli dan pedagang.
“Kalau tidak ada uang kecil, tinggal scan. Lebih praktis,” katanya.
Keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan UMKM turut berdampak pada pemasaran produk.
Ia mengaku banyak konsumen baru mengenal produknya melalui kegiatan yang melibatkan instansi pemerintah dan komunitas.
Saat ini, Rozalina membuka lapak tetap di Jalan Basuki Rahmat, Samarinda, di kawasan sekitar kantor DPRD dan rumah sakit, dan berjualan setiap hari bersama beberapa pelaku UMKM lainnya.
Bagi Rozalina, keterlibatan dalam pembinaan pemerintah memberi manfaat nyata.
Dengan legalitas lengkap, usahanya lebih mudah mengakses pelatihan, pendampingan, hingga program bantuan.
“Kalau sudah terdata, kita jadi tahu ada bantuan apa, pelatihan apa. Kalau tidak ikut, kita tidak tahu,” katanya.
Kini, dengan sertifikat halal yang telah terverifikasi dan usaha yang terus berjalan, Rozalina berharap bisnisnya tidak berhenti sebagai usaha rumahan semata.

