SAMARINDA: Alokasi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk Tahun Anggaran 2026 mengalami penurunan drastis.
Dari sebelumnya Rp45,5 miliar pada 2025, di 2026 akan menjadi Rp16,5 miliar atau berkurang lebih dari 60 persen.
Penyesuaian anggaran itu dilakukan menyusul defisit fiskal daerah pada 2026, imbas berkurangnya dana bagi hasil (DBH) dan turunnya fiskal transfer pusat. Pemerintah provinsi melakukan efisiensi belanja pada seluruh sektor, termasuk olahraga.
Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Kaltim, Rasman Rading, menjelaskan pengurangan ini merupakan bagian dari penyesuaian kebijakan fiskal yang tidak dapat dihindari.
“Memang mengalami penurunan yang sangat drastis. Tahun 2024 kemarin itu untuk pemusatan latihan daerah (puslatda) dan keikutsertaan Pekan Olahraga Nasional (PON) itu kita bantu Rp175 miliar. Tahun 2025 turun jadi Rp45,5 miliar. Dan 2026 tinggal Rp16,5 miliar,” ujar Rasman, Selasa, 9 Desember 2025.
Menurutnya, anggaran Rp16,5 miliar tersebut diarahkan untuk kebutuhan rutin KONI, persiapan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Porprov) 2026, dan keikutsertaan sejumlah cabang olahraga pada kejuaraan nasional.
Selain itu, dukungan juga diberikan untuk agenda internal seperti musyawarah provinsi (Musprov), rapat kerja provinsi (Rakerprov) hingga pembinaan atlet junior.
Dengan kondisi anggaran terbatas, Rasman menegaskan pola pembinaan dan pengiriman atlet akan berubah.
Kaltim tidak lagi mengirim atlet dalam jumlah besar, tetapi memilih atlet yang benar-benar berpotensi menyumbang medali.
“Yang dikirim harus betul-betul memiliki potensi. Bukan lagi ramai-ramai, bukan seluruh nomor tanding diikuti. Tapi fokus pada sumber medali,” tegasnya.
Ia menyebut, efisiensi ini juga untuk memastikan setiap rupiah anggaran yang digunakan memberikan dampak langsung terhadap performa atlet Kaltim pada level nasional.
Tantangan fiskal tak hanya berdampak pada KONI, tetapi juga pada penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026.
Setiap kabupaten/kota akan merasakan tekanan anggaran yang sama.
Rasman mengatakan semua pihak harus beradaptasi dengan kondisi ini.
Termasuk mencari pola pendanaan alternatif di luar APBD melalui kemitraan, sponsor, dan dukungan swasta.
“Sekarang memang harus banyak inisiatif kreatif untuk mendapatkan anggaran. Ini kesempatan untuk berpikir keras dan memanfaatkan peluang kerja sama,” ujarnya.
Ia berharap KONI dan cabang olahraga dapat menyusun strategi pembinaan yang efektif, tetap menjaga target jangka panjang, serta memaksimalkan peluang medali bagi Kaltim pada PON 2028.

