SAMARINDA: Malam tadi mungkin menjadi malam paling mencekam bagi Djawati (60).
Warga yang telah tinggal di bantaran Sungai Mahakam sejak 1988 itu dikagetkan oleh suara benturan keras yang menghantam rumahnya di Gang Pompa, RT 17, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Minggu, 4 Januari 2026 dini hari tadi.
Sekitar pukul 01.15-01.17 WITA, sebuah ponton batu bara terseret arus dan menyenggol rumahnya.
Dalam hitungan detik, Djawati dan keluarganya panik menyelamatkan diri.
“Tongkangnya itu nabrak rumah saya. Suaranya nyaring sekali. Pontonnya mepet ke sini,” kata Djawati saat ditemui di kediamannya.
Benturan terdengar keras. Djawati mengaku tubuhnya gemetar karena terkejut.
Dalam kondisi panik, ia sempat ditarik oleh suaminya agar segera naik dan menjauh dari area yang terancam ambruk.
“Iya, keras sekali. Bunyinya ‘brag’. Saya sampai ditarik-tarik sama bapaknya karena belum sempat naik. Badan saya sampai gemetar,” tuturnya.
Saat kejadian, di dalam rumah terdapat tiga anak. Mereka langsung dievakuasi ke luar rumah.
Beruntung tidak ada korban jiwa, namun kerusakan material sangat parah, terutama di bagian dapur yang ambruk ke sungai.
“Barang-barang dapur semuanya jatuh ke sungai. Kulkas, stok makanan, semua alat dapur, sampai CCTV dan solar cell hanyut semua,” ujarnya.
Hingga siang hari setelah kejadian, Djawati mengatakan belum ada pihak perusahaan pemilik kapal yang datang untuk melihat kondisi rumahnya.
Selain Satpol PP, aparat yang sempat mendatangi lokasi pada malam kejadian hanya dari unsur kepolisian perairan.
“Dari pihak perusahaan belum ada. Yang datang malam itu dari Polairud dan siang ini Satpol PP,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua RT 17 Jalan Cipto Mangunkusumo, Setia Budi, mengungkapkan kronologi kejadian yang ia saksikan langsung.
Saat itu, ia tengah berada di dalam rumah ketika anaknya berteriak memperingatkan adanya ponton yang mengarah ke permukiman warga.
“Anak saya teriak dari sana, bilang ‘awas Pak, ada ponton mau nabrak’. Begitu saya bangun dan naik ke atas, pontonnya sudah sangat dekat. Tidak lama kemudian terdengar benturan keras,” ujar Setia Budi.
Dari pengamatannya, Setia Budi menuturkan ponton tersebut bukan sedang melakukan pengolongan di bawah jembatan.
Ponton justru dalam kondisi larut dari arah hulu akibat tidak terkendali.
“Bukan pengolongan. Ponton itu larut dari hulu. Ada kapal asistensi, tapi talinya diduga terlilit di baling-baling, sehingga tidak bisa mengendalikan ponton,” jelasnya.
Akibat kejadian tersebut, rumah Djawati mengalami kerusakan cukup parah, terutama di bagian belakang dan dapur, serta satu unit keramba milik warga yang ikut terdampak.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, Setia Budi menaksir total kerugian yang dialami korban mencapai lebih dari Rp120 juta.
Rinciannya, kerusakan rumah beserta isinya diperkirakan sekitar Rp100 juta, sementara kerusakan keramba dan fasilitas pendukung lainnya sekitar Rp20 juta.
Orang pertama yang melihat ponton mengarah ke rumah adalah Djawati sendiri, yang saat itu hendak ke toilet. Setia Budi menyebut, jika tidak segera ditarik oleh suaminya, kejadian itu berpotensi menimbulkan korban.
“Kalau dia langsung ke toilet mungkin bisa ada korban. Untung langsung ditarik bapaknya,” ujarnya.
Kini, Djawati berharap ada tanggung jawab dari pihak pemilik kapal atas kerusakan yang dialaminya.
Ia juga berharap ada langkah tegas agar insiden serupa tidak kembali terjadi di kawasan padat permukiman bantaran Sungai Mahakam.
“Ini bukan kerusakan kecil. Saya berharap ada tanggung jawab,” ucapnya lirih.

