SAMARINDA: Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan baru bagi kehidupan beragama dan kebangsaan di Indonesia.
Dalam konteks tersebut, agama ditegaskan tidak boleh tertinggal oleh perubahan zaman, melainkan harus hadir sebagai sumber nilai, etika, dan solusi atas berbagai persoalan sosial.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, menyebut bahwa umat manusia kini hidup di era VUCA – Volatility (Volatilitas), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kompleksitas) dan Ambiguity (Ambiguitas), sebuah kerangka kerja yang menggambarkan dunia modern yang tidak stabil, tidak dapat diprediksi, rumit, dan membingungkan.
Perkembangan AI menjadi salah satu penanda utama perubahan tersebut, yang berpotensi membawa manfaat besar sekaligus risiko sosial jika tidak dikawal dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Seno Aji turut menegaskan Kementerian Agama dan aparatur sipil negara (ASN) di dalamnya tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perkembangan teknologi.
ASN Kemenag didorong untuk mampu mengisi ruang AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, moderat, dan mencerahkan.
“Algoritma masa depan tidak boleh hampa dari nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan,” kata Seno saat Upacara HAB ke-80 di Kanwil Kemenag Kaltim, 3 Januari 2026.
Dalam konteks ini, agama diposisikan bukan sebagai penghambat kemajuan teknologi, tetapi sebagai penuntun etika dan moral agar AI tidak menjadi sarana disinformasi, polarisasi, atau konflik sosial.
AI, menurut Seno, harus diarahkan menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan umat beragama.
Seno mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama untuk meneladani sejarah peradaban, ketika agama dan ilmu pengetahuan pernah berjalan beriringan.
Disebutkan bahwa pada masa lalu, pusat-pusat peradaban seperti Baitul Hikmah menjadi bukti bahwa nilai-nilai agama dapat bersinergi dengan rasionalitas untuk menjawab persoalan umat manusia.
Selain tantangan teknologi, Seno Aji juga menyinggung transformasi internal Kementerian Agama yang terus didorong agar lebih adaptif dan berdampak.
ASN Kemenag dituntut menjadi pribadi yang lincah, responsif, terbuka terhadap inovasi, serta mampu melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas.
Seno menyebut persoalan tersebut relevan dengan kondisi daerah yang majemuk seperti Kalimantan Timur.
Menurutnya, penguasaan teknologi yang beretika harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kerukunan dan toleransi.
“Perkembangan teknologi, termasuk AI, harus kita pastikan berjalan sejalan dengan nilai agama dan kemanusiaan, sehingga kemajuan tidak meninggalkan jati diri bangsa,” tutupnya.

