JAKARTA: Jurnalisme hari ini menghadapi tantangan serius akibat kecepatan informasi yang sering kali mengorbankan ketepatan dan keadilan.
Di tengah banjir informasi yang bergerak sangat cepat bukan lagi menit tapi dalam hitungan detik, media kerap terjebak pada dorongan viralitas yang justru menyingkirkan kebenaran dan nilai kemanusiaan.
Kecepatan mengalahkan ketepatan, dan popularitas menutupi kebenaran.

Hal itu disampaikan Pemimpin Umum Kantor Berita Mina (Mi’raj News Agency) Arief Rahman saat Talkshow media sekaligus peluncuran dua buku yakni “Jihad Marifi dalam Pembebasan Masjidil Al-Aqsha dan Palestina” serta “Rahasia Pengetahuan Surat At-Tin” dalam puncak tasyakuran Milad ke-13 Kantor Berita Mina di Auditorium HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Rabu, 14 Januari 2026.
Menurut Arief, MINA memilih jalan yang tidak mudah dengan berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan, khususnya dalam isu Palestina yang sejak awal menjadi ruh perjuangan media tersebut.
“Di usia ke-13 tahun, MINA tetap konsisten mewarnai pemberitaan Palestina dan dunia Islam. Ini bukan pekerjaan ringan, tapi menjadi tanggung jawab moral kami sebagai media,” katanya.
Ia juga menyoroti persoalan literasi sebagai akar masalah dari berbagai distorsi informasi, mulai dari literasi sejarah, budaya, hingga keadilan.
Arief berharap forum ini melahirkan keberanian dan kolaborasi nyata demi masa depan jurnalisme yang bermartabat.

Direktur Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat Aat Surya Safaat mengulas sejarah berdirinya Kantor Berita MINA yang bermula dari gagasan almarhum Imam Hamidi pada 2012, usai Konferensi Internasional Penyelesaian Palestina di Bandung.
Kala itu, konferensi menghadirkan perwakilan 20 negara, termasuk faksi-faksi Palestina yang sulit dipertemukan.
Dari pengalaman tersebut, lahir gagasan untuk membangun kantor berita berbasis daring yang fokus pada isu Palestina dan dunia Islam.
Nama Mi’raj Islamic News Agency (MINA) kemudian disepakati setelah proses kontemplasi panjang.
MINA memulai langkah awalnya dari lingkungan pesantren di Cilengsi, dengan pembinaan wartawan secara intensif, termasuk peliputan konflik Timur Tengah secara langsung.
Kini, MINA telah terverifikasi Dewan Pers dan wartawannya mengikuti uji kompetensi jurnalistik.
“Ini modal penting. Tapi yang lebih penting, wartawan harus terus menulis dan berpikir,” ujarnya sembari mengutip filsuf René Descartes, “Aku ada karena aku berpikir”.
Ia juga menekankan pentingnya etika dan kesantunan dalam wawancara, dengan memahami latar belakang dan martabat narasumber, serta kesiapan wartawan menghadapi kompetisi media di era konvergensi.
Acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan Dr. Asep Setiawan (Kaprodi Magister Ilmu Politik UMJ), Dr. Sarbini Abdul Murad (Direktur Indonesia for Peace & Humanity), dan Dr. Mohammad Hery Saripudin (Executive Board Indonesian Council on World Affairs/ICWA).
Para narasumber membahas dinamika geopolitik Palestina, peran masyarakat sipil internasional, serta pentingnya pendekatan kemanusiaan dan literasi politik global dalam membaca konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Talkshow dan peluncuran buku ini diharapkan menjadi ruang dialog yang memperkuat kesadaran publik tentang Palestina, sekaligus meneguhkan peran media sebagai penjaga nurani publik di tengah tantangan zaman.

