SAMARINDA: Pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Mulawarman (Unmul) dinilai berjalan lambat meski dukungan pemerintah daerah telah diberikan sejak 2023.
Hingga awal 2026, fakultas tersebut belum juga terealisasi, padahal kebutuhan akan pendidikan keolahragaan di Kalimantan Timur dinilai semakin mendesak.
Hal itu disampaikan Plt epala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur Muhammad Faisal dalam rapat pembahasan permohonan rekomendasi pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan Unmul bersama DPRD Kalimantan Timur dan pihak Universitas Mulawarman, di Gedung E DPRD Kaltim, Senin, 2 Februari 2026.
Faisal mengungkapkan, dukungan pemerintah daerah sebenarnya telah diberikan sejak beberapa tahun lalu.
Bahkan, rekomendasi resmi telah dikeluarkan sejak 2023 melalui pembentukan tim percepatan oleh Gubernur Kaltim saat itu, Isran Noor.
“Sejujurnya kami sudah memberikan rekomendasi sejak 2023. Tahun 2025 pun rekomendasi kembali dikeluarkan, dan kebetulan saya yang menandatangani. Jadi saya ingat betul. Tapi sampai sekarang belum terealisasi. Artinya, tim percepatan ini harus diaktifkan kembali,” ujar Faisal.
Menurutnya, keterlambatan pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan berpotensi merugikan daerah, khususnya dalam pembinaan atlet.
Ia menilai, Kalimantan Timur bisa kehilangan atlet-atlet potensial karena tidak adanya jenjang pendidikan S1 keolahragaan di daerah sendiri.
“Kita bina atlet-atlet ini dengan baik, tapi ketika mereka lulus dan ingin kuliah S1, mereka bingung. Kalau tidak ada fakultas olahraga, mereka terpaksa keluar daerah. Dan akhirnya bisa jadi membela daerah lain,” katanya.
Faisal yang juga Kepala Diskominfo Kaltim itu menyoroti pentingnya kampus yang memiliki kepedulian terhadap kondisi atlet.
Menurutnya, banyak atlet yang kesulitan menyeimbangkan tuntutan akademik dan latihan karena minimnya pemahaman dosen terhadap kebutuhan olahraga prestasi.
“Kalau dosennya tidak peduli, atlet ini mau TC tidak diizinkan, mau latihan tidak diberi ruang. Akhirnya prestasi terganggu. Padahal masa depan mereka juga harus dipikirkan, karena olahraga belum menjamin penghidupan sampai tua,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan juga penting untuk pengembangan sport science dan pencetakan pelatih serta tenaga ahli olahraga secara lokal, sehingga lebih efisien dan berkelanjutan.
“Kita butuh pelatih, ahli sport science, dan itu jauh lebih efisien kalau kita produksi sendiri di Kaltim. Dari sisi SDM, Unmul sudah sangat siap. Dosen S2 dan S3-nya sudah tersedia,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Kaltim Rasman Rading menilai pendirian fakultas tersebut merupakan kelanjutan logis dari keberadaan Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim.
“Setiap tahun lulusan SKOI sekitar 30 sampai 40 orang. Kalau tidak ada Fakultas Ilmu Keolahragaan, sama saja kita menyia-nyiakan potensi prestasi mereka,” kata Rasman.
Ia menjelaskan, banyak lulusan SKOI yang akhirnya tidak melanjutkan kuliah atau mengambil jurusan yang tidak relevan dengan bidang olahraga.
Padahal, Kaltim memiliki kebutuhan besar akan tenaga keolahragaan profesional.
Rasman juga mengaitkan rencana pendirian fakultas ini dengan pengembangan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Mahasiswa (PPLM) serta persiapan menghadapi PON XXII Tahun 2028 di NTT dan NTB.
“Kalau kita ingin prestasi meningkat, ini harus ditunjang pendidikan yang berkelanjutan, sarana-prasarana, serta laboratorium sport science. Tanpa itu, sulit berharap raihan medali maksimal,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Dispora Kaltim menyatakan kesiapan mendukung dari sisi fasilitas, termasuk pemanfaatan Stadion Gelora Kadrie Oening Sempaja dan Stadion Utama Palaran sebagai sarana praktik dan pembinaan mahasiswa.
“Sekali lagi, kami di Dispora mendukung penuh. Mudah-mudahan dengan dukungan DPRD dan Pemprov, proses pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan Unmul bisa segera dipercepat,” tutup Faisal.

