JAKARTA: Bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat manusia untuk berbuat kebaikan, termasuk kembali menata dan merencanakan masa depan, khususnya dalam mengelola keuangan keluarga.
Ajakan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia, Imam Teguh Saptono, saat tampil sebagai pembicara pada acara Ramadan Kowani yang digelar Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Rabu, 25 Februari 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung hingga 27 Februari 2026.
Imam Teguh Saptono membawakan topik “Ramadan Momentum untuk Berhijrah Finansial” dan mengajak masyarakat menata kembali keuangan keluarga dengan cara yang dihalalkan dalam ajaran Islam.
Menurutnya, perencanaan keuangan keluarga merupakan hal penting dan menjadi bagian dari tanggung jawab seorang muslim.
Dengan perencanaan yang matang, keberlangsungan kehidupan pribadi dan keluarga dapat terjaga.
Namun, Imam yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank BNI Syariah itu menegaskan bahwa perencanaan rezeki harus sesuai dengan kaidah halal dalam Islam.
Dengan demikian, rezeki yang dikonsumsi menjadi berkah dan tidak membawa mudarat.
Ia mengutip penggalan ayat Alquran yang menegaskan agar manusia mengonsumsi makanan yang halal serta menjauhi hal-hal yang syubhat.
Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari sumbernya, yakni harta atau uang yang digunakan.
Di bulan Ramadan, lanjutnya, menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk “membersihkan” sumber rezeki dengan memperbanyak kebaikan, seperti menunaikan zakat dan sedekah, serta menghindari praktik riba.
Ramadan disebutnya sebagai waktu yang diberikan Allah untuk membersihkan harta, mengingat seiring bertambahnya usia, dosa pun bisa ikut bertambah.
Ia juga mengingatkan bahwa iman bersifat fluktuatif, bisa naik dan turun sesuai dinamika kehidupan seseorang.
“Agar iman tidak defisit, inilah saatnya kita kembali kepada yang haq,” ajak Imam, seraya menambahkan bahwa dosa tidak akan berkurang kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.
Lebih jauh, ia menyoroti persoalan riba sebagai salah satu aspek yang paling banyak disebut dalam Alquran sebagai hal yang diharamkan.
“Kita harus saling mengingatkan, karena dari sekian banyak hal-hal yang diharamkan yang paling banyak disebut dalam Alquran adalah riba,” tegasnya.
Menurutnya, riba dapat berdampak luas pada berbagai sektor kehidupan, sehingga umat Islam diminta tidak berspekulasi dan memanfaatkan Ramadan sebagai momentum introspeksi diri.
Ia juga menyebut kesempatan menjalani Ramadan sebagai bentuk karunia Allah yang memberi ruang bagi manusia untuk memperbaiki kehidupan, termasuk dalam aspek finansial keluarga.
Ramadan, lanjutnya, merupakan pintu rahmat yang dibukakan bagi hamba-Nya yang beriman.
Momentum ini menjadi waktu refleksi atas perjalanan hidup, terutama bagi mereka yang telah memasuki usia matang.
“Marilah kita kembali merefleksi langkah Ramadan, sudahkah puasa kita bisa mengurangi dosa-dosa yang bertambah seiring dengan pertambahan usia,” ajak Imam mengakhiri tausiah.

