
KUTIM: Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menegaskan komitmennya menahan laju inflasi melalui program intervensi harga yang digelar secara rutin sepanjang tahun.
Salah satu instrumen utamanya adalah pasar murah, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi agenda tetap di berbagai kecamatan, termasuk wilayah yang berada jauh dari pusat kota.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, menjelaskan bahwa pasar murah diposisikan sebagai langkah konkret untuk memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau oleh masyarakat.
Ia menyebut kegiatan itu digelar bukan hanya di kawasan perkotaan Sangatta, tetapi juga menyasar seluruh kecamatan.
“Biasanya setiap tahun kami turun ke lapangan membawa program pasar murah ke kecamatan-kecamatan sampai kawasan kota Sangatta,” kata Nora saat ditemui Narasi.co di Sangatta, Rabu, 19 November 2025.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah daerah menyediakan paket sembako berisi delapan komoditas pokok. Isi paket mencakup beras, susu, minyak goreng, sarden, serta beberapa kebutuhan dasar lain.
Nilai satu paket sebenarnya setara Rp300.000, tetapi dijual hanya Rp100.000.
“Kami menyediakan paket delapan item kebutuhan pokok. Nilai riilnya sekitar tiga ratus ribu rupiah, namun masyarakat hanya menebus seratus ribu. Sisanya kami tanggung sebagai bentuk subsidi,” ujar Nora.
Ia menambahkan bahwa subsidi tersebut diberikan untuk meringankan beban masyarakat sekaligus memutus mata rantai distribusi yang kerap memicu kenaikan harga, terutama di daerah dengan akses logistik terbatas.
“Tujuannya jelas, ini bagian dari strategi menahan inflasi. Karena itu paket-paket ini kami bawa langsung hingga kecamatan terjauh agar jalur distribusi tidak menjadi pemicu kenaikan harga,” tuturnya.
Untuk tahun anggaran 2025, Disperindag telah merampungkan seluruh rangkaian kegiatan pasar murah dengan alokasi anggaran sekitar Rp9 miliar.
Dana tersebut digunakan untuk pengadaan dan distribusi paket yang disebar ke 13 kecamatan. Dalam setiap kecamatan, pemerintah menyalurkan sekitar 2.300 paket kepada masyarakat. Jumlah itu disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat keterjangkauan masing-masing wilayah.
Nora mengungkapkan bahwa respons masyarakat selalu tinggi, terutama karena kualitas barang yang disediakan tergolong premium meskipun harganya rendah berkat subsidi pemerintah.
“Antusiasme warga di kecamatan selalu besar. Mereka bisa mendapatkan sembako berkualitas baik dengan harga yang jauh lebih terjangkau,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung kebijakan pengendalian inflasi yang dicanangkan pemerintah daerah.
Menurutnya, langkah ini sejalan dengan arahan kepala daerah agar intervensi harga dapat dirasakan secara langsung oleh warga.
“Kami berharap program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga, sehingga manfaatnya bisa diterima masyarakat tanpa perantara,” kata Nora.
Dengan penyelenggaraan yang terus diperluas setiap tahun, pasar murah dinilai menjadi instrumen strategis bagi Kutai Timur dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan potensi gejolak harga kebutuhan pokok di tingkat lokal. (Adv)

